Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah 0,73 persen ke level 6.127 pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026).

Koreksi ini terjadi setelah IHSG sempat menyentuh level tertinggi di posisi 6.215 pada sesi pertama. Nilai total transaksi pasar mencapai Rp8,24 triliun.

in1

>>> Produk Herbal Indonesia Raih Kesepakatan Ekspor ke Arab Saudi Rp2,5 Miliar

Aksi balik arah ke zona merah dipicu oleh posisi jual bersih investor asing yang menembus Rp1,4 triliun hingga akhir perdagangan sesi pertama.

Investor luar negeri melepas kepemilikan saham pada emiten besar seperti TPIA, TLKM, AMMN, BBRI, dan BMRI dengan nilai mencapai separuh dari total net sell.

Penurunan indeks komposit ini berjalan selaras dengan rilis MSCI Global Market Accessibility Review 2026 pada Kamis (18/6/2026) waktu setempat.

MSCI tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok emerging markets, namun menurunkan peringkat transparansi informasi (information flow) dari positif menjadi negatif.

Lembaga penyedia indeks dunia itu menyoroti masalah keterbukaan struktur kepemilikan, minimnya informasi berbahasa Inggris, kualitas free float, hingga indikasi perdagangan terkoordinasi.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai hasil tinjauan tersebut berisiko membuat pemodal global menahan posisi underweight untuk pasar Indonesia lebih lama.

"Risiko utama dari laporan MSCI itu bukan soal penurunan klasifikasi tapi meningkatnya risiko premium untuk Indonesia," kata Liza.

>>> Temanggung Rintis Kelas Khusus Olahraga untuk Pelajar SMP

Ia menambahkan bahwa fokus pengawasan MSCI kini bergeser dari sekadar keterbukaan informasi menuju integritas proses pembentukan harga.

"Penyebutan mengenai perilaku perdagangan yang terkoordinasi mengindikasikan meningkatnya pengawasan terhadap transparansi pasar, kualitas saham beredar publik, serta integritas pasar secara keseluruhan," ujar Liza.