Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status Indonesia dalam kelompok Emerging Market melalui publikasi Global Market Accessibility Review pada Jumat (19/6/2026).

Keputusan ini meredam kekhawatiran pelaku pasar modal domestik terkait potensi penurunan kasta ke Frontier Market.

in1

>>> OJK Tetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Calon Dirut BEI Periode 2026-2030

Hasil tinjauan tahunan menunjukkan mayoritas dari 18 indikator aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga.

Namun, MSCI menurunkan skor kriteria arus informasi akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi.

Penurunan ini memicu kehati-hatian investor global, tecermin dari aksi jual bersih asing mencapai hampir Rp80 triliun secara tahun berjalan.

Nilai tukar rupiah masih bertahan di atas Rp17.800 per dolar AS.

Respons Analis dan Pelaku Pasar

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai hasil peninjauan aksesibilitas tersebut tidak mengejutkan.

Isu pembekuan saham telah diantisipasi sejak akhir Januari 2026.

Berdasarkan kartu skor MSCI, aspek kepemilikan asing di Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan China dan India.

Wilbert menambahkan bahwa bursa domestik saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi syarat ukuran dan likuiditas, jauh melampaui batas minimum satu saham.

Hasil evaluasi yang positif akan melonggarkan ketidakpastian pasar saham domestik.

Peluang masuknya kembali modal asing setelah rilis dokumen MSCI juga diproyeksikan oleh KISI Sekuritas.

>>> IHSG Melemah 0,73% Usai MSCI Turunkan Peringkat Transparansi Informasi

Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, mengatakan bahwa kenaikan bobot Foreign Inclusion Factor akan menjadi stimulus utama bagi investor global.

Aliran dana asing diprediksi akan menyasar sektor perbankan, pertambangan, dan ritel.

Investment Specialist KISI Sekuritas lainnya, Ahmad Faris Mu’tashim, sependapat bahwa sektor perbankan akan menjadi tujuan utama.