Bloomberg Intelligence mencatat angka ini sebagai proporsi tertinggi di antara pasar utama Asia Tenggara.

Thailand turut menghadapi perlambatan ekonomi, valuasi pasar yang kurang menarik, serta pemulihan laba yang bergantung pada sektor energi dan petrokimia siklikal.

in1

Peningkatan belanja pemerintah untuk meredam dampak konflik bahkan belum menyebar ke perekonomian luas.

"Kami melihat prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah akan membebani pertumbuhan laba per saham indeks SET, terutama pada 2027," tulis analis Chak Reungsinpinya dalam sebuah catatan.

Data Bloomberg menunjukkan laba perusahaan di Filipina diperkirakan anjlok 20% pada kuartal berjalan, menjadi kontraksi terdalam sejak 2022.

>>> Bulog Salurkan 946,8 Ribu Ton Cadangan Beras Pemerintah hingga Juni 2026

Proyeksi ini mengikuti penurunan 4,3% pada kuartal pertama akibat pelemahan sektor properti residensial dan margin konsumen.

Analis COL Financial, Richard Laneda, memperkirakan tekanan pada sektor properti Filipina akan terus berlanjut.

"Kami memperkirakan dampak krisis minyak terhadap pendapatan dan penjualan akan semakin besar pada kuartal kedua 2026 karena biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan ketidakpastian akibat krisis akan melemahkan sentimen konsumen serta menunda pembelian barang-barang bernilai besar," ujarnya.

Pertumbuhan laba di Thailand diproyeksikan mulai kehilangan momentum pada kuartal kedua akibat kekhawatiran biaya operasional yang tinggi.

Laba kemudian diperkirakan menyusut 13% pada kuartal ketiga, menjadi kontraksi terburuk di kawasan.

Indonesia juga menghadapi tekanan akibat pelemahan mata uang dan kenaikan biaya bahan baku impor.

Namun, Bloomberg Intelligence menyebutkan dampaknya sebagian diimbangi oleh dukungan ekspor komoditas serta permintaan domestik yang tangguh.

Di sisi lain, laba perusahaan Vietnam tumbuh 28% pada kuartal pertama.

Sementara laba perusahaan Malaysia diperkirakan pulih setelah sektor perbankan sempat membebani kinerja keseluruhan pada tiga bulan pertama tahun ini.