Tingginya harga keekonomian Pertamax dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel, diperburuk oleh depresiasi nilai tukar rupiah.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.794 per Dolar AS, Tertekan Faktor Global dan Domestik

in1

Kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang diperlukan untuk mengurangi tekanan keuangan yang ditanggung Pertamina.

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, mengatakan perdamaian Iran-AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global.

Tren penurunan harga minyak dapat berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax.

Namun, penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level Rp 12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

Yayan memperkirakan penurunan harga minyak dunia akan berlangsung bertahap, dengan koreksi sekitar 1% hingga 3% per hari selama beberapa bulan ke depan.

Pergerakan harga energi global masih bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan implementasi perdamaian.

Harga Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026, lalu naik lagi pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di belahan bumi utara.

Pasar minyak global belum akan memasuki keseimbangan harga baru dalam waktu dekat.

Berdasarkan proyeksi STEO dari EIA AS, pasar masih dalam fase transisi menuju keseimbangan baru.

Peningkatan produksi minyak AS yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari akan menahan kenaikan harga minyak pascaperdamaian.

>>> Polisi Tangkap Preman Pemeras Wisatawan di Bukit Lamreh Aceh Besar

Yayan memperkirakan harga minyak dunia dapat bergerak pada rentang US$ 80-US$ 90 per barel hingga akhir tahun, lalu turun ke US$ 75-US$ 85 per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.