Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mulai dipertanyakan masyarakat saat harga minyak dunia turun setelah Iran dan Amerika Serikat mengakhiri konflik.

Sejumlah ekonom menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak bisa langsung turun seiring melandainya harga minyak dunia.

in1

>>> Wali Kota Medan dan Dubes Finlandia Bahas Investasi Energi dan Pendidikan

Faktor yang Mempengaruhi Harga BBM

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung.

Harga yang dibayar masyarakat di SPBU merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak.

Semua faktor tersebut harus dihitung menggunakan rata-rata periode tertentu, bukan harga harian.

Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga lebih merupakan keputusan kebijakan negara yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan APBN.

Ketika harga minyak dunia turun, ruang fiskal yang terbuka bisa dipakai untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi, bukan langsung menurunkan harga di SPBU.

Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah.

Josua menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen perhitungan harga kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi.

Harga Keekonomian Pertamax

Berdasarkan perhitungan Josua, harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp 16.500 per liter, atau sekitar Rp 250 lebih tinggi dibandingkan harga jual yang berlaku saat ini.

Dengan harga jual baru Rp 16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp 250 per liter.