Rupiah NDF Menguat ke Rp17.795 per Dolar AS Pasca Kenaikan Suku Bunga BI
Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.
>>> Harga Emas Dunia Turun 1,68 Persen Akibat Sentimen Suku Bunga AS
Ekspektasi tersebut mendorong indeks dolar AS kembali bertahan di atas 100,84, berdasarkan data Bloomberg per 06:16 WIB.
Kuatnya dolar AS menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi, membuat arus modal global cenderung lebih selektif terhadap aset negara berkembang.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan BI kemungkinan perlu melanjutkan pengetatan moneter secara bertahap.
Meski saat ini selisih suku bunga antara BI dan The Fed telah mencapai 200 bps, MH Thamrin masih perlu menaikkan suku bunga minimal dua kali hingga 6,25%.
"Masih perlu kenaikan lebih lanjut menjadi minimal 225 bps agar rupiah bisa stabil hingga awal tahun depan," kata Lionel kepada Bloomberg Technoz.
Menurut Samuel Sekuritas, penguatan rupiah yang masih terbatas mengindikasikan bahwa siklus kenaikan suku bunga BI kemungkinan belum berakhir.
Sebab, sejak awal tahun, rupiah masih mencatat pelemahan 5,76%, hanya lebih baik dari won Korea Selatan yang melemah paling tajam 6,47%.
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman mengatakan arah BI Rate akan ditentukan oleh perkembangan risiko global dan domestik.
Faktor tersebut mencakup dinamika geopolitik Timur Tengah, prospek suku bunga AS, hingga sentimen investor menjelang tinjauan MSCI dan penilaian peringkat Indonesia oleh S&P.
Jika tekanan eksternal berangsur pada paruh kedua 2026, para ekonom di Bank Permata mempertahankan proyeksi dasar bahwa BI Rate akan bertahan di 5,75% hingga akhir 2026.
>>> Harga Emas Berfluktuasi di Level Support US$ 4.000 Akibat Kebijakan Suku Bunga Tinggi The Fed
"Dalam skenario dasar kami, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan pada rentang 7,2-7,4% hingga penghujung tahun," kata Faisal.
Update Terbaru
FIFA Undang YouTuber Korban Rasisme di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:56 WIB
Alasan Richard Lee Ajukan Tahanan Kota: Kemanusiaan dan Kondisi Kesehatan
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Mako Bakery Promo Dry Cake Mulai Rp 41.000 pada 9-14 Mei 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Polisi Amankan Tongkang Batu Bara yang Didamparkan di Pangandaran
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Awal 2026, Ekonomi Domestik Dorong Masyarakat Lebih Cermat Kelola Keuangan
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Jadwal Piala Dunia 2026: Kanada Hadapi Qatar di Grup B
Jumat / 19-06-2026, 09:54 WIB
Kurs Dolar AS Menguat ke Rp 17.818 pada 19 Juni 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:52 WIB
Simulasi Pajak BYD M6 DM Berdasarkan NJKB Permendagri, Capai Rp2,7 Juta
Jumat / 19-06-2026, 09:52 WIB
Swiss Hadapi Bosnia-Herzegovina, Buru Kemenangan Perdana Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:51 WIB
Harga Cabai di Lebak Turun Akibat Pasokan Melimpah
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Pemkot Bogor Tanamkan Karakter Positif Siswa Lewat Program Serbukatif
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Yen Jepang Melemah ke Bawah 161 per Dolar AS, Terendah Sejak Juli
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Lim Ji Yeon Hapus Tato Eyeliner karena Hambat Syuting Drama
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Tottenham Hotspur Resmi Rekrut Jan Paul van Hecke dari Brighton
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB






