Harga Emas Berfluktuasi di Level Support US$ 4.000 Akibat Kebijakan Suku Bunga Tinggi The Fed
Harga emas diproyeksikan berfluktuasi pada level support kritis US$ 4.000 per troy ounce akibat kebijakan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi.
Berdasarkan laporan Investor Daily pada Jumat (19/6/2026), harga emas spot terakhir diperdagangkan di posisi US$ 4.230,70 per troy ounce, naik tipis dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.
>>> PDPOTJI Anjurkan Konsumsi Kunyit Asam untuk Redakan Nyeri Menstruasi
Pasar saat ini berada dalam ketidakpastian setelah aksi jual komoditas tersebut beberapa waktu lalu.
Analis: Sentimen Pasar Masih Tertekan
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan sentimen kemungkinan tidak akan membaik secara signifikan sampai pergerakan harga emas membaik.
Ia menambahkan bahwa rata-rata pergerakan harga selama 200 hari tetap menjadi medan pertempuran utama, dengan emas saat ini diperdagangkan sekitar US$ 200 di bawah level tersebut.
Hansen memperkirakan emas mampu bertahan pada kisaran US$ 4.000 per troy ounce dalam jangka pendek.
“Keberhasilan mempertahankan area tersebut akan mempertahankan pandangan bahwa aksi jual baru-baru ini mewakili koreksi dangkal dalam pasar bullish yang kuat,” ujarnya.
>>> OJK Tunjuk Jeffrey Hendrik Jadi Direktur Utama BEI Periode 2026-2030
Di sisi lain, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter agresif The Fed dan meredanya tensi politik internasional.
Kepala Pengembangan Bisnis XS. com, Simon-Peter Massabni, menjelaskan bahwa emas memasuki periode volatilitas tinggi tanpa tren yang jelas.
“Pasar menghadapi hambatan dari dolar AS yang kuat, kebijakan The Fed yang agresif, dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Namun, inflasi yang terus-menerus dan ketidakpastian ekonomi global tetap memberikan dukungan,” kata Massabni.
Meskipun mengalami penurunan, proyeksi jangka panjang emas dinilai masih memiliki landasan struktural yang kuat.
>>> Lisa Cook Terima Dana Hukum 1,2 Juta Dolar AS Lawan Upaya Pemecatan Trump
Massabni menambahkan bahwa tren bullish jangka panjang belum berakhir karena fundamental struktural seperti inflasi di atas target, pembelian emas oleh bank sentral, dan peningkatan utang pemerintah AS.
Update Terbaru
Thierry Henry Kritik Ambisi Individu Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
Umat Islam Dianjurkan Perbanyak Puasa dan Sedekah di Bulan Muharram
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
4 Hari Besar Nasional dan Global yang Diperingati Setiap 16 April
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
Saham Danantara Topang IHSG di Tengah Volatilitas Pasar
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
BPJS Kesehatan Pastikan Iuran Peserta JKN Belum Mengalami Kenaikan
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
Korea Selatan Tantang Meksiko di Grup A Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
Krisis Resin PPE di Jubail Picu Kenaikan Harga Papan Sirkuit Global 40 Persen
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
KPK: Pemanggilan Pansus Haji DPR Tergantung Kebutuhan Penyidikan
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Menjaga Kepercayaan dari Ruang Potong: Modernisasi RPH Surabaya
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Omoway Sempurnakan Motor Listrik OMO X Sebelum Rilis di Indonesia
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Real Madrid Resmi Rekrut Marc Cucurella dari Chelsea dengan Kontrak Enam Musim
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Swiss Hajar Bosnia 4-1 di Piala Dunia 2026, Berkat Pemain Pengganti
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
BI Perketat Aturan Pembelian Valas Tunai, Batas Turun Jadi US$ 10.000
Jumat / 19-06-2026, 08:26 WIB
Kesadaran Investasi Jangka Panjang Meningkat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Jumat / 19-06-2026, 08:26 WIB






