Harga emas diproyeksikan bergerak fluktuatif pada 19 Juni 2026, dengan level support kritis di US$ 4.000 per troy ounce.

Tekanan utama berasal dari sikap Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi.

in1

>>> Dishub DKI Imbau Pengunjung Haul Akbar di Monas Gunakan Transportasi Umum

Pada perdagangan terakhir, harga emas spot tercatat di US$ 4.230,70 per troy ounce. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan pasar saat ini berada dalam ketidakpastian setelah aksi jual emas.

Menurutnya, sentimen tidak akan membaik signifikan sampai pergerakan harga emas sendiri membaik.

Hansen menambahkan bahwa rata-rata pergerakan harga 200 hari menjadi medan pertempuran utama.

Emas saat ini diperdagangkan sekitar US$ 200 di bawah level tersebut, membuat pengikut tren enggan kembali membeli.

Ia memperkirakan harga emas mampu bertahan di kisaran US$ 4.000 per troy ounce.

>>> 10 Sifat Haji Mabrur dan Transformasi Perilaku Setelah Ibadah

Jika level tersebut bertahan, aksi jual baru-baru ini hanya merupakan koreksi dangkal dalam pasar bullish yang kuat sejak 2022.

Sementara itu, Kepala Pengembangan Bisnis di XS. com, Simon-Peter Massabni, menyebut ketegangan geopolitik yang mereda dan kebijakan agresif The Fed menghambat harga emas.

Menurutnya, emas memasuki periode volatilitas tinggi tanpa tren yang jelas.

Massabni menjelaskan bahwa hambatan datang dari dolar AS yang kuat, kebijakan The Fed yang agresif, dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Namun, inflasi yang terus-menerus dan ketidakpastian ekonomi global tetap memberikan dukungan fundamental.

Ia menegaskan bahwa penurunan baru-baru ini tidak menandakan berakhirnya tren bullish jangka panjang.

>>> AISMOLI: Kenaikan Harga BBM Jadi Peluang Percepatan Adopsi EV

Inflasi di atas target bank sentral, peningkatan cadangan emas oleh bank sentral global, dan utang pemerintah AS yang meningkat menjadi faktor pendukung.