Pasar saham Indonesia mencatat kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun 2026. Indeks acuan di Jakarta anjlok lebih dari 27 persen sejak awal tahun.

Aksi jual besar-besaran oleh investor asing memperparah kondisi ini. Nilai kepemilikan saham yang dilepas mencapai US$ 3,76 miliar sepanjang tahun berjalan.

in1

>>> Kanada Unggul Dua Gol atas Qatar di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Lembaga penyedia indeks global, MSCI, kembali menyoroti berbagai risiko utama yang membayangi pasar domestik. Transparansi kepemilikan saham dinilai masih sangat terbatas.

Selain transparansi, MSCI mendeteksi tanda-tanda praktik perdagangan terkoordinasi di lantai bursa. Hambatan operasional bagi investor asing juga dipicu oleh keterbatasan akses pasar valuta asing.

Minimnya liberalisasi devisa dianggap sebagai penghalang serius bagi fleksibilitas transaksi investasi lintas negara.

"Tidak ada pasar mata uang offshore yang efisien dan terdapat pembatasan di pasar mata uang onshore di Indonesia," tulis MSCI.

Tekanan di pasar modal telah bereskalasi sejak Januari lalu.

MSCI untuk pertama kalinya melayangkan peringatan keras mengenai isu transparansi dan membuka potensi penurunan status investasi Indonesia dari negara berkembang menjadi pasar perintis.

>>> Saksi: Tim Medis Persulit Pendampingan Diego Maradona Sebelum Wafat

Potensi penurunan kasta tersebut memicu kekhawatiran sistemik di kalangan pelaku pasar global.

Peringatan MSCI diproyeksikan berdampak pada likuiditas bursa dan memicu gelombang pelarian modal asing hingga US$ 13 miliar.

Pemangku kepentingan mulai menggulirkan langkah reformasi struktural. Salah satunya menaikkan batas minimum saham beredar di publik menjadi 15 persen bagi setiap perusahaan tercatat.

Dinamika pembenahan ini juga diwarnai pengunduran diri pimpinan bursa dan regulator secara bersamaan dalam satu hari.

Pencoretan Emiten dan Kondisi Global

Proses tinjauan terhadap status pasar Indonesia diperpanjang MSCI pada April. Pada Mei, indeks tersebut secara resmi mengeluarkan enam perusahaan domestik dari keranjangnya.

Sebagian besar emiten yang didepak memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah kelompok konglomerat. Keputusan ini kembali memukul sentimen investasi dan kinerja pasar saham.

>>> Rockstar Gratiskan Pembaruan GTA 5 ke Konsol Generasi Baru

Dalam rilis tinjauan yang sama, MSCI menyinggung perkembangan pasar modal Korea Selatan. Negara tersebut dinilai konsisten melanjutkan agenda reformasi, meski aksesibilitas bagi investor asing masih menghadapi hambatan.