"Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal.

Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan pemulihan dan menguat ke sekitar Rp17.730 per dolar AS secara month to date," ujarnya.

in1

Selain faktor nilai tukar, BI juga mulai menghadapi tekanan inflasi yang meningkat. Mirae mencatat Wholesale Price Index (WPI) pada Mei 2026 mencapai 5,76% secara tahunan.

Sementara itu, inflasi inti di luar komponen emas naik menjadi 1,63% dari 1,36% pada April 2026.

Menurut Jessica, kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik juga mulai meningkatkan daya tarik aset Indonesia.

Hingga 18 Juni 2026, yield SBN tenor 10 tahun naik sekitar 92 basis poin sejak awal tahun menjadi 7%, sedangkan yield tenor dua tahun meningkat menjadi 7,08%.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat stabilisasi rupiah melalui berbagai instrumen lain seperti diskon biaya hedging swap bagi investor asing dan pembukaan kembali fasilitas lelang repo berbagai tenor.

Jessica menilai langkah tersebut menunjukkan upaya BI menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, likuiditas domestik, dan daya tarik aset keuangan Indonesia.

"Penurunan cadangan devisa sejak awal tahun menunjukkan bahwa suku bunga akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal.

Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul," katanya.

Ke depan, pasar diperkirakan akan lebih banyak mencermati arah rupiah, perkembangan inflasi domestik, serta kebijakan Federal Reserve.

>>> BI: Kenaikan Harga Pertamax Sumbang Inflasi 0,25 Persen

Selama ketidakpastian global masih tinggi, fokus utama Bank Indonesia diperkirakan tetap berada pada stabilitas nilai tukar, meskipun konsekuensinya tekanan terhadap pasar saham dan sektor-sektor sensitif bunga akan semakin besar.