Jika outflow SBN berlanjut, yield 10 tahun bisa menuju 7,2%-7,5%," kata Wafi.

Pandangan Analis: Stabilitas Rupiah vs Pertumbuhan

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menyampaikan pandangan serupa.

in1

Menurut dia, kenaikan BI Rate menjadi 5,75% merupakan sinyal bahwa bank sentral memilih mempertahankan stabilitas rupiah terlebih dahulu meskipun konsekuensinya biaya dana menjadi lebih mahal.

Dalam jangka pendek, langkah tersebut dinilai positif karena meningkatkan daya tarik aset rupiah dan menunjukkan komitmen BI menjaga nilai tukar agar tidak terdepresiasi terlalu dalam.

"Kenaikan BI Rate 25 bps ke 5,75% adalah sinyal bahwa BI memilih mempertahankan stabilitas Rupiah terlebih dahulu, meskipun konsekuensinya biaya dana menjadi lebih mahal," ujarnya.

Meski demikian, dampaknya terhadap pasar saham dinilai tidak sepenuhnya positif. Stabilitas rupiah memang dapat menurunkan premi risiko Indonesia dan memperbaiki persepsi investor asing.

Namun, kenaikan bunga juga berpotensi menekan valuasi saham, meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, serta memperlambat konsumsi dan investasi.

Liza menilai kebijakan BI lebih tepat dipandang sebagai instrumen stabilisasi jangka pendek ketimbang solusi permanen terhadap tantangan ekonomi domestik.

"BI bisa membeli waktu dan meredam tekanan Rupiah, tetapi inflow asing yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari fiskal yang kredibel, belanja pemerintah yang lebih efisien, komunikasi kebijakan yang lebih jelas, serta regulasi yang lebih predictable.

Tanpa itu, kenaikan BI Rate hanya akan menjadi painkiller jangka pendek," katanya.

Menurut Kiwoom Sekuritas, dampak terbesar dari era suku bunga tinggi akan dirasakan oleh sektor-sektor yang bergantung pada pembiayaan kredit.

Perbankan masih relatif defensif karena didukung likuiditas yang kuat, rasio dana murah atau current account savings account (CASA) yang tinggi, serta kemampuan menetapkan harga kredit.