Nilai tukar rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.794 per dolar AS pada perdagangan Kamis (18/6/2026) sore.

Posisi ini turun dari penutupan sebelumnya di Rp 17.764 per dolar AS.

in1

>>> Legislator dorong pelacakan aset maksimal dalam kasus Hanania Travel

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global yang masih kuat. Faktor eksternal seperti prospek geopolitik Timur Tengah dan kebijakan moneter AS yang ketat menjadi pemicu utama.

Faktor Global dan Domestik

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah masih menghadapi ketidakpastian. Pasar mencermati peluang perdamaian AS-Iran yang bisa membuka jalur ekspor energi di Selat Hormuz.

Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75% juga memperkuat dolar AS.

Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan komitmen terhadap stabilitas harga dan menaikkan perkiraan inflasi.

>>> MSCI Soroti Enam Kelemahan Pasar Modal Indonesia

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 bps menjadi 5,75% melalui RDG 18-19 Juni 2026.

Suku bunga Deposit Facility naik ke 4,75% dan Lending Facility ke 6,50%.

Ibrahim menambahkan, investor global menunggu keputusan MSCI terkait status Indonesia di emerging market. Pembekuan konstituen saham baru oleh MSCI sebelumnya menjadi perhatian pasar.

>>> Kelangkaan Resin PPE Jubail Mengancam Rantai Pasok Teknologi Global

Untuk perdagangan Jumat (19/6/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp 17.790 - Rp 17.840 per dolar AS.