Pemahaman mengenai manajemen risiko inflasi menjadi krusial agar nilai kekayaan tidak menyusut.

Laju inflasi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di angka 2-3% yang mempengaruhi daya beli masyarakat secara langsung.

in1

>>> Indeks Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Berkat Reli Saham AI

Kenaikan harga barang dan jasa secara umum menyebabkan jumlah barang yang dibeli dengan nominal uang yang sama menjadi lebih sedikit.

Jika kenaikan harga tidak diimbangi pertumbuhan imbal hasil aset, maka secara riil kekayaan bersih individu mengalami penurunan.

Melansir laman resmi Sahabat Pegadaian, inflasi merupakan kondisi saat nilai mata uang mengalami depresiasi terhadap komoditas barang akibat berbagai faktor pasar.

Strategi menabung konvensional di rumah atau hanya mengandalkan rekening giro tanpa bunga menjadi kurang efektif.

Sebagai contoh, jika tingkat inflasi tahunan 5%, dana Rp100.000.000 pada awal tahun nilainya setara Rp95.000.000 pada tahun berikutnya.

Para pakar keuangan menyarankan diversifikasi portofolio ke instrumen yang memiliki korelasi positif terhadap kenaikan harga.

Mengutip dari Bank BCA, pengalihan sebagian likuiditas ke aset riil atau instrumen pasar modal mampu memberikan imbal hasil di atas laju inflasi.

Langkah pertama adalah investasi pada logam mulia seperti emas yang dianggap sebagai safe haven karena nilainya cenderung stabil saat inflasi tinggi.

Langkah berikutnya adalah diversifikasi ke instrumen saham perusahaan dengan fundamental kuat yang mampu meneruskan kenaikan biaya produksi ke konsumen.

>>> Simpan Asset Management: Tekanan Fiskal dan Nilai Tukar Jadi Sumber Utama Risiko Makro

Masyarakat juga dapat memanfaatkan produk reksadana atau Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan kupon kompetitif di atas rata-rata kenaikan harga konsumen.

Investasi aset tetap seperti tanah atau bangunan berupa properti juga menjadi pilihan karena nilainya cenderung mengikuti atau melampaui laju inflasi tahunan.