Swiss National Bank (SNB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utama pada level 0 persen. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (25/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Bank sentral Swiss juga menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

in1

>>> Masa Depan Elkan Baggott Jadi Sorotan Jelang Musim 2026/2027

Langkah ini bertujuan meredam lonjakan nilai tukar franc Swiss yang menjadi aset aman akibat konflik Timur Tengah.

Inflasi Meningkat Akibat Harga Energi

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, aktivitas perekonomian Swiss terbukti tangguh.

Namun, tingkat inflasi nasional naik dari 0,1 persen pada Februari menjadi 0,6 persen pada Mei.

Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga energi global imbas konflik Iran.

Ketua Dewan Pimpinan SNB, Martin Schlegel, menyatakan bahwa daya tarik franc Swiss sebagai pelindung nilai sempat memicu tekanan ke atas pada mata uang tersebut.

Schlegel memperingatkan bahwa apresiasi yang cepat dan berlebihan dapat mengancam stabilitas ekonomi. Meskipun tekanan pasar saat ini telah sedikit mereda, bank sentral tetap mempertahankan kewaspadaan penuh.

"Jika perlu, kesiapan kami untuk mengintervensi pasar valas ditingkatkan," ujar Schlegel dalam wawancara dengan CNBC.

Ia menambahkan bahwa stabilitas harga domestik sangat rentan terhadap guncangan eksternal dari wilayah konflik internasional.

Perbedaan tingkat suku bunga antara Swiss dan negara maju lainnya turut memengaruhi pergerakan pasar.

>>> Shin Tae-yong Targetkan Juara Bersama Persija Jakarta

Bank Sentral Eropa baru-baru ini menaikkan suku bunganya menjadi 2,25 persen pada awal bulan ini.

"Seiring melebarnya perbedaan suku bunga dengan negara lain, franc Swiss sedikit terdepresiasi. Namun, situasi geopolitik masih belum pasti.

Risiko tekanan ke atas yang kuat dengan demikian tetap ada," papar Schlegel.