Penyaluran kredit perbankan nasional menunjukkan akselerasi signifikan menjelang pertengahan tahun 2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum merata di seluruh segmen dan institusi keuangan.

Bank Indonesia mencatat realisasi kredit perbankan melonjak 11,51% secara tahunan (yoy) hingga Mei 2026. Angka ini meningkat dari capaian bulan sebelumnya yang sebesar 9,98% yoy.

>>> Indonesia dan Jerman Jajaki Perluasan Sektor Penempatan PMI

Sektor investasi memimpin pertumbuhan dengan lompatan 21,95% yoy, naik dari 19,48% yoy pada periode sebelumnya.

Sementara itu, kredit modal kerja juga menguat dari 6,04% yoy menjadi 8,09% yoy.

Sebaliknya, sektor konsumsi menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan, dari 6,13% yoy menjadi 5,89% yoy. Hal ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih lemah di sektor ritel.

Ketimpangan Antar Bank

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pemulihan keyakinan konsumen yang belum optimal membuat rumah tangga lebih restriktif dalam pengeluaran dan pinjaman.

Ketimpangan juga terlihat pada kinerja bank besar.

Per Mei 2026, Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan kredit 4,85% yoy, sementara Bank Mandiri melonjak 20,56% yoy.

Yusuf menjelaskan bahwa pertumbuhan industri masih ditopang oleh kelompok Himbara. Keunggulan akses terhadap proyek strategis nasional dan program pemerintah menjadi faktor utama.

Di sisi lain, bank swasta memiliki porsi lebih besar pada kredit konsumsi dan modal kerja korporasi. Melemahnya permintaan di dua sektor itu membuat mereka menerapkan kebijakan lebih restriktif.

“Ini lebih merupakan pilihan strategi daripada tanda melemahnya fundamental bank,” kata Yusuf kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).

>>> UI dan Harbin Institute of Technology Jalin Kerja Sama Pendidikan dan Riset

Ia memproyeksikan dominasi Himbara akan bertahan selama belanja negara dan program pemerintah belum berubah, serta permintaan konsumsi belum pulih secara masif.