Bank Jambi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi terus memperkuat akses layanan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas Suku Anak Dalam (SAD).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Edukasi dan Inklusi Keuangan yang digelar di Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, Jambi, Kamis.

>>> Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G, Bodi Hanya 6,9 mm

Kegiatan bertajuk “Lentera Inklusi di Balik Rimba: Membangun Kemandirian Finansial Suku Anak Dalam” ini dihadiri oleh Wakil Bupati Merangin Abdul Khafidh, jajaran OPD, Ketua Tumenggung, serta masyarakat dan pelajar SAD.

Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan

Direktur Treasury, Dana, IT dan Digital Bank Jambi Achmad Nunung HS mengatakan peningkatan literasi dan inklusi keuangan merupakan langkah penting untuk memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan keuangan formal.

Bank Jambi mendukung berbagai program edukasi keuangan yang menjangkau masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Masyarakat SAD diharapkan semakin mengenal produk dan layanan perbankan, memahami pentingnya menabung, serta memiliki kemampuan mengelola keuangan secara mandiri dan berkelanjutan.

Peserta juga memperoleh pemahaman terkait produk perbankan, manfaat menabung, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan kejahatan keuangan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang aman, mudah dijangkau, dan sesuai kebutuhan.

>>> Mentan Amran Minta Kapolri Kawal Penyesuaian Harga TBS Sawit

Kolaborasi antara Bank Jambi, OJK, Pemerintah Kabupaten Merangin, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu memberdayakan masyarakat SAD secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan hidup.

Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan

Kepala OJK Provinsi Jambi Yan Iswara Rosya mengatakan berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, meningkat dari 65,43 persen tahun sebelumnya.

Sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, naik dari 75,02 persen pada 2024.

Menurut dia, masih terdapat kesenjangan sebesar 14,02 persen antara tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia.

OJK terus memprioritaskan program edukasi dan inklusi keuangan kepada kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi lebih rendah, termasuk masyarakat pedesaan dan wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

"Edukasi keuangan sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan konsumen," katanya.

>>> Paola Serena Jadi Sorotan Usai Unggah Foto Malam Satu Suro Bersama Pria Berkebaya

Masyarakat dengan pemahaman keuangan yang baik dapat mengambil keputusan keuangan secara bijak, mengelola pendapatan lebih efektif, serta melindungi diri dari risiko keuangan.