Lembaga pemikir Center for European Reform yang berbasis di London memperingatkan bahwa Jerman menghadapi risiko deindustrialisasi yang serius.

Perusahaan-perusahaan China disebut semakin banyak merebut pangsa pasar produsen Jerman, baik di pasar domestik, negara ketiga, maupun langsung di pasar Eropa.

Sejumlah laporan memperkirakan China dapat menguasai sekitar 40 persen produksi industri dunia pada 2030.

Kondisi itu dipandang akan memberikan tekanan besar terhadap kemampuan produksi, penelitian dan pengembangan, serta inovasi di Eropa.

Mekanisme Baru dan Diversifikasi Rantai Pasok

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Uni Eropa tengah menyiapkan berbagai mekanisme baru.

Komisi Eropa sedang membahas peluncuran investigasi perlindungan pasar secara luas terhadap sektor-sektor tertentu dan mengembangkan instrumen baru untuk menghadapi kelebihan produksi China.

>>> Kementan Sediakan Konsultasi Ahli untuk Petani di PENAS XVII Gorontalo

Beberapa usulan dari Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, dan Lithuania bahkan melampaui mekanisme antidumping yang berlaku saat ini.

Negara-negara tersebut mengusulkan penerapan tarif bea masuk langsung terhadap sektor tertentu tanpa harus melalui proses investigasi yang panjang.

Salah satu regulasi penting yang sedang disusun akan mewajibkan diversifikasi rantai pasok untuk produk-produk kritis.

Tujuannya adalah mencegah perusahaan-perusahaan Eropa bergantung pada satu negara atau satu pemasok untuk kebutuhan cip semikonduktor, unsur tanah jarang, dan bahan industri strategis lainnya.

Dalam rancangan tersebut, perusahaan diwajibkan memiliki sedikitnya tiga sumber pasokan berbeda dan membatasi porsi satu pemasok dalam total kebutuhan mereka.

Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, mengusulkan instrumen diversifikasi tersebut guna mencegah potensi gangguan pasokan.

Menurut Leibniz Centre for European Economic Research (ZEW), strategi diversifikasi memang menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan.