Snap akan memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan, alasannya untuk meningkatkan efisiensi.

Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak kondisi ini terjadi pada November 2022 lalu.

Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan.

Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka sebelumnya seperti cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock.

Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan yang ada terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu yang jauh lebih lama.

Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji yang terlalu tinggi.

>>> Indonesia Dorong Integrasi Ekonomi ASEAN-Rusia di KTT Kazan

Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade) demi bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.