Sebelum seorang anak berhasil mendaratkan ollie, lompatan dasar dalam skateboard, ia rata-rata harus jatuh ratusan kali. Bukan puluhan, melainkan ratusan.

Papan terlepas, lutut menghantam beton, pergelangan kaki terkilir. Namun, ia tetap berdiri, mengatur ulang posisi kaki, dan mencoba lagi.

>>> Profil 7 Pemain Drama Korea Teach You a Lesson di Netflix

Pullias Center for Higher Education di University of Southern California meneliti skateboard bukan karena prestasinya di Olimpiade Tokyo 2020.

Mereka tertarik pada proses jatuh-bangun itu sendiri.

Peneliti menemukan bahwa pengulangan kegagalan fisik sebelum kompetisi adalah inti yang membuat olahraga ini berbeda dari olahraga lain yang biasa dikenal anak-anak.

Saat meluncur di atas papan, otak anak tidak beristirahat.

Ia memproses banyak hal sekaligus: ke mana tubuh harus condong, seberapa keras kaki menekan, kapan melompat, dan bagaimana mendarat.

Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik, berulang-ulang setiap sesi latihan. Pengulangan ini membentuk koneksi baru di otak.

Setiap kali anak gagal dan mencoba lagi, jalur sarafnya semakin kuat. Hingga akhirnya gerakan yang tadinya harus dipikirkan keras-keras mengalir otomatis, seperti mengayuh sepeda.

Dua sistem dalam tubuh mendapat kerja keras yang jarang mereka dapatkan dari olahraga lain.

Pertama, sistem keseimbangan di telinga bagian dalam yang terus-menerus mendeteksi arah dan kecepatan gerak tubuh.

>>> Penjelasan Ending Film Dukun Magang Hingga Kemungkinan Lanjut Musim Kedua

Kedua, sinyal dari otot dan sendi yang memberi tahu otak di mana posisi setiap bagian tubuh, bahkan tanpa harus melihatnya.

Kedua sistem ini, ketika dirangsang secara intens dan berulang, terbukti membantu menenangkan sistem saraf.