Dwi mengungkapkan koordinasi awal bersama Presiden Prabowo Subianto sempat dilakukan guna mencari opsi mempertahankan harga eceran Pertamax sebelum akhirnya disesuaikan.

"Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian.

Seperti itu.

Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi," imbuh Dwi.

Pemerintah juga memastikan tidak ada perubahan harga pada sektor BBM yang mendapatkan bantuan subsidi atau kompensasi langsung dari negara.

"Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga," ucap Anggia.

Pandangan Dewan Ekonomi Nasional

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat menilai penurunan harga minyak mentah di bawah US$ 80 per barel akan memicu koreksi positif bagi harga Pertamax dan Solar nonsubsidi secara bertahap.

"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun.

Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman kepada wartawan di kantor Kementerian PPN/Bappenas.

Firman menambahkan bahwa kondisi rantai pasok global sebenarnya memiliki ketahanan stok yang cukup besar semenjak sebelum pecahnya konflik fisik.

"Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya sebelum perang gitu kan.

Nah yang terjadi nih gangguan harga kenapa bisa US$ 100 itu lebih karena distribusi gitu kan. Ketika masalah perangnya sudah selesai, distribusi Hormuz-nya bisa lebih lancar.