Penyesuaian nilai jual komoditas energi nonsubsidi ini dinilai krusial demi menjaga stabilitas operasional penyediaan bahan bakar di dalam negeri.

"Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," tambah Anggia.

Sebelumnya, pemerintah sempat menahan kenaikan harga eceran BBM nonsubsidi demi menjaga ketahanan finansial masyarakat jelang pertengahan tahun.

"Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat, ada diskusi dengan badan usaha pelat merah dan badan usaha swasta untuk mempertahankan BBM subsidi.

Tapi seiring berjalannya waktu fluktuasi harga yang makin dinamis pelaku usaha sesuaikan harga keekonomiannya," papar Anggia.

Anggia kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam memantau tren penurunan harga minyak global untuk menentukan kebijakan harga BBM domestik ke depan.

"Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi," beber Anggia.

Dalam kesempatan konferensi pers terpisah di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Anggia kembali menegaskan hal serupa.

"Nah apakah bisa turun? Pasti.

Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun.

>>> Harga Emas Tiga Jenama di Pegadaian Kompak Turun pada Kamis Ini

Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," ujar Dwi.

Kondisi penyesuaian harga di Indonesia diklaim lebih lambat dibanding wilayah regional lain karena adanya upaya intervensi pemerintah untuk meredam dampak inflasi.

"Namun balik lagi, kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang sudah berlangsung.

Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian," tutur Dwi.