Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, mengingatkan warga agar tidak hanya melihat total gula.

Konsumen juga perlu cermat memperhatikan rincian jenis gula tambahan seperti sukrosa pada komposisi produk.

>>> Kurs Rupiah 18 Juni 2026 Melemah ke Level Rp 17.858 per Dolar AS

"Yang jadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih rendah kesadarannya untuk melihat nutrition facts.

Padahal di situ sudah tercantum apa saja yang masuk ke tubuh kita," ujar dr Laurencia Ardi.

Kelebihan konsumsi gula total yang bersumber dari karbohidrat dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis. Hal ini berisiko memicu penyakit diabetes.

"Misalnya ada sukrosa. Sukrosa itu gula pasir atau gula tambahan yang perlu kita perhatikan.

Yang perlu diwaspadai terkait batas 5 sendok makan tadi, adalah sukrosanya," jelas dr Laurencia Ardi.

Selain volume konsumsi, pemilihan jenis makanan berdasarkan indeks glikemik juga berpengaruh langsung pada kecepatan peningkatan kadar gula darah.

Makanan yang sangat manis, mudah dikunyah, dan cepat dicerna biasanya memiliki indeks glikemik lebih tinggi.

Makanan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang terbukti meningkatkan kadar gula darah dengan laju yang lebih lambat. "Semua yang berlebihan tidak baik.

Jadi indeks glikemik dijaga, jumlah konsumsinya juga harus dijaga," pungkas dr Laurencia Ardi.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menambahkan bahwa melonjaknya kasus diabetes di Indonesia tidak hanya dipicu asupan gula berlebih.

Minimnya aktivitas fisik masyarakat juga menjadi faktor penting.

"Yang penting sebenarnya keseimbangan antara asupan dan aktivitas. Generasi sekarang aktivitas fisiknya makin kurang karena semuanya serba mudah," kata dr. Siti Nadia Tarmizi.

Kombinasi antara kurangnya pergerakan fisik dan tingginya konsumsi zat pemanis secara langsung memperbesar risiko obesitas kronis. "Kalau aktivitas fisik kita kurang, asupan harus dibatasi.

>>> Prajogo Pangestu Borong Saham BREN Rp25,9 Miliar Saat Harga Turun

Dengan adanya informasi di label pangan, sebenarnya masyarakat bisa mengatur dan membatasi asupan mereka sendiri," ujarnya.