Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah terbatas pada perdagangan hari ini. Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor.

Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga level Rp 17.762 per dolar Amerika Serikat (AS).

>>> Presiden Prabowo Perintahkan Pemangkasan Masa Tunggu Haji Jadi 26 Tahun

Pelemahan rupiah ini turut membebani sentimen pasar saham domestik.

Pelaku pasar saat ini bersikap hati-hati menjelang pengumuman kebijakan moneter dari bank sentral.

Keputusan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menjadi fokus utama.

Selain itu, sejumlah agenda global turut dicermati, seperti MSCI Global Market Accessibility Review, rebalancing FTSE, dan MSCI Annual Market Classification Review.

Proyeksi Kebijakan Moneter

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Sementara itu, Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Hasil keputusan The Fed dan Bank Indonesia akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah, arus dana asing, serta sentimen pasar dalam jangka pendek," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Secara teknikal, IHSG diprediksi berada dalam fase konsolidasi dengan support di rentang 6.071–5.931 dan resistance di kisaran 6.300–6.350.

Tren rebound jangka menengah masih aman selama indeks bertahan di atas area support.

>>> IHSG 18 Juni 2026 Diprediksi Bergerak Terbatas Jelang Keputusan BI Rate

Sentimen eksternal kurang bersahabat setelah bursa AS ditutup melemah.

Dow Jones turun 0,98% ke 51.492,55, S&P 500 merosot 1,21% ke 7.420,10, dan Nasdaq terkoreksi 1,34% ke 26.021,66.