Saham SpaceX mencatat penurunan untuk pertama kalinya sejak penawaran umum perdana (IPO) pada perdagangan Rabu (17/6/2026).

Penurunan sekitar 5% ini mengakhiri reli tiga hari yang sempat melonjak hingga mendekati 50%.

>>> Diet Karnivora Klaim Turunkan Berat Badan dan Atasi Pradiabetes

Koreksi tersebut membuat kapitalisasi pasar SpaceX kembali di bawah Amazon. com Inc., dengan nilai sekitar US$2,5 triliun.

Volume perdagangan opsi SpaceX mencapai lebih dari 1,4 juta kontrak, turun 24% dari hari sebelumnya.

Meski demikian, SpaceX tetap menjadi sekuritas ketiga yang paling aktif diperdagangkan di pasar opsi Amerika Serikat setelah Tesla dan Nvidia.

Analis: Penurunan Hanya Gangguan Pasar

Michael Monaghan, mitra dan manajer portofolio di Founder Funds di Dallas, menilai penurunan ini hanya gangguan pasar (noise).

"Jika kita melihat penurunan besar dalam satu hari, itu akan menjadi pembahasan yang berbeda," katanya.

Monaghan menambahkan bahwa volatilitas ini berpotensi menjadi kesempatan. "Jika sahamnya benar-benar terpukul lebih dalam, kemungkinan kami akan menambah posisi," ujarnya.

Rasio opsi jual terhadap opsi beli SpaceX terpantau hampir seimbang, menandakan peningkatan lindung nilai oleh investor.

>>> Saham GOTO Stagnan di Rp 50 Meski Rencana Buyback Rp 3,5 Triliun

Investor Michael Burry juga menyatakan pandangannya mengenai harga opsi jual saat ini melalui platform Substack.

Vanda Research mencatat kemungkinan rotasi dari satu perdagangan terkait Elon Musk ke perdagangan lainnya. "SpaceX makin dipandang sebagai eksposur yang lebih murni terhadap AI dan teknologi," tulis Vanda.

Potensi Masuk Indeks Saham

Pergerakan saham ke depan juga akan dipengaruhi oleh potensi masuknya SpaceX ke dalam indeks saham utama.

Nasdaq Inc. telah memperbarui aturan untuk mempercepat masuknya perusahaan berkapitalisasi besar, sehingga SpaceX bisa memenuhi syarat setelah 15 hari perdagangan.

Sementara itu, S&P Dow Jones Indices memilih mempertahankan aturan yang ada.

SpaceX harus menunggu minimal 12 bulan dan memenuhi kriteria profitabilitas sebelum bisa masuk ke S&P 500.

Shelby McFaddin, manajer portofolio di Motley Fool Asset Management, mengatakan hal itu mungkin menjadi alasan sebagian investor tidak panik.

>>> Kemenpar Targetkan 19,1 Juta Wisman pada 2027

"Nantinya saya bisa memperoleh eksposur terhadap saham ini hanya dengan melacak indeks tersebut melalui instrumen investasi yang tersedia," katanya.