Skenario positif lainnya berupa pembekuan yang tetap dipertahankan namun disertai nada konstruktif terkait keterbukaan dan transparansi data kepemilikan investor.

Skenario netral hingga negatif adalah MSCI mempertahankan pembekuan dan memperpanjang masa review tanpa sinyal perbaikan.

Skenario terburuk adalah masuknya Indonesia ke dalam frontier watchlist. Namun, Edi menilai skenario tersebut memiliki probabilitas rendah karena reformasi dan transparansi data yang sudah berjalan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan pengumuman MSCI merupakan prioritas utama yang paling dinantikan pelaku pasar.

"MSCI menjadi prioritas utama karena pasar ingin melihat seberapa jauh reformasi pasar modal sudah dilakukan. Dua pengumuman MSCI menjadi poin yang sangat penting diperhatikan," ujar Nico kepada Kontan.

Nico berpendapat peluang Indonesia langsung turun kelas dari emerging market relatif kecil. Namun, tekanan pada persepsi investor asing dapat berlanjut jika aksesibilitas pasar tidak segera diselesaikan.

>>> IHSG dan Rupiah Melemah Jelang Pengumuman Penting Pekan Ini

RDG Bank Indonesia dan Faktor Eksternal

Pelaku pasar juga mencermati hasil RDG Bank Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan potensi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Langkah penyesuaian moneter tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendongkrak daya tarik aset domestik di tengah volatilitas global.

Nico mencatat bahwa kebijakan moneter tidak bisa bergerak sendirian. Kenaikan suku bunga harus diimbangi dengan penyelesaian isu di sektor riil dan fiskal.

"Kalau Bank Indonesia menaikkan suku bunga tetapi persoalan dari sisi fiskal belum terselesaikan, maka inflow tetap masuk tetapi jumlahnya terbatas," kata Nico.

Pasar global masih memberikan perhatian besar pada stabilitas kebijakan fiskal di dalam negeri. Faktor fiskal menjadi sorotan utama investor internasional terhadap perekonomian Indonesia.