Namun, posisi sebagai produsen utama tersebut belum mampu menempatkan Indonesia sebagai penentu harga pasar global.

"Dari mulai timbal, timah, karet, banyak lagi sejarah kita. Tapi kita lihat bahwa kita bukan yang menjadi penentu harga di pasar dunia.

Kita bukanlah yang mendapatkan manfaat ekonomi terbesar," kata Suzanty.

Pengembangan industri komoditas strategis ini juga menuntut ketersediaan pasokan energi yang andal, berbiaya terjangkau, serta dikelola secara ramah lingkungan.

"Semoga dialog hari ini tidak hanya menghasilkan pertukaran gagasan, tapi juga membantu kita semua memperjelas pilihan-pilihan strategis yang perlu diambil oleh Indonesia agar mineral kritis benar-benar menjadi fondasi bagi industrialisasi yang berdaya saing, mendukung ekonomi hijau, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat," kata Suzanty.

Pandangan serupa mengenai pergeseran fungsi komoditas tambang dipaparkan oleh lembaga pengkajian ekonomi dalam kesempatan dialog yang sama.

"Mineral kritis tidak hanya dipandang sebagai suatu komoditas saja tetapi mineral kritis ini sudah menjadi aset yang menentukan apakah daya saing industri kita itu mampu bersaing di ekonomi global, apakah mineral kritis ini bisa mendorong kemandirian energi dan seterusnya," kata Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

>>> Amir Ghalenoei Kecam Perlakuan Diskriminatif AS Terhadap Timnas Iran

Menurut Esther, optimalisasi potensi sumber daya alam ini membutuhkan dukungan kebijakan yang tepat serta koordinasi kuat antar-pemangku kepentingan demi memitigasi risiko ketergantungan baru.