Koreksi besar pasar saham Indonesia telah terjadi berkali-kali sejak 2020. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap koreksi besar, IHSG pada akhirnya pulih dan mencetak puncak baru.

Meski demikian, pola historis bukan jaminan bahwa siklus saat ini akan berakhir sama.

>>> Pemerintah Berlakukan Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026 untuk Hemat Devisa

Henan Putihrai dalam risetnya mengingatkan agar keputusan investasi didasarkan pada data dan fundamental, bukan ketakutan atau euforia jangka pendek.

Delapan Koreksi Besar IHSG

Sejak tahun 2000, IHSG telah mengalami delapan koreksi besar.

Hingga 15 Juni 2026, koreksi mencapai 41,7% dari puncaknya dan menjadi yang terdalam ketiga dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.

Tujuh koreksi sebelumnya seluruhnya berakhir dengan pola yang sama: IHSG kembali ke level puncak dan kemudian mencetak rekor baru.

Dalam menghadapi gejolak pasar, Henan Putihrai memandang investor perlu membedakan informasi yang benar-benar penting. Opini, rumor, dan spekulasi tanpa dasar data dapat diabaikan.

“Perhatian utama sebaiknya diberikan pada perubahan fundamental yang berpengaruh terhadap prospek pemulihan pasar,” tulis Henan Putihrai dikutip Rabu (17/6/2026).

Empat Fase Siklus Pasar

Berdasarkan pengalaman tujuh koreksi besar sebelumnya, pergerakan IHSG umumnya melalui empat fase. Dimulai dengan fase penurunan (descend) ketika indeks turun dari puncak menuju titik terendah.

Lalu fase dasar (trough) saat pasar mulai berkonsolidasi dan membentuk titik balik dengan kenaikan minimal 10%.

Kemudian fase normalisasi ketika sebagian penurunan berhasil dipulihkan meski kekhawatiran investor masih tinggi.

Terakhir, fase pemulihan (recovery) di saat periode kenaikan berkelanjutan hingga indeks kembali ke puncak sebelumnya.

Henan Putihrai menyebut, memahami posisi pasar dalam siklus ini membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional.