Dengan fase penurunan yang diperkirakan telah berakhir, perhatian kini beralih ke proses pemulihan.

“Target fase normalisasi berada di level 7.229 atau sekitar 18% di atas posisi IHSG pertengahan Juni 2026, dengan estimasi durasi 4–7 bulan berdasarkan pola historis,” tulis Henan Putihrai.

Tiga faktor utama yang perlu diperhatikan adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia sebagai pasar berkembang, stabilisasi rupiah di kisaran Rp15.000–Rp16.000 per dolar AS, dan peluang penurunan suku bunga Bank Indonesia.

Berbeda dari siklus sebelumnya, pemulihan kali ini tidak banyak bergantung pada pemangkasan suku bunga karena prioritas utama masih menjaga stabilitas rupiah.

Keunikan Siklus 8 adalah adanya ketidakpastian mengenai posisi Indonesia dalam alokasi modal global melalui keputusan MSCI.

Karena itu, pemulihan pasar tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga saham, tetapi juga oleh kembalinya kepercayaan investor asing.

Bagi investor, pendekatan yang disarankan adalah menjaga keseimbangan antara aset defensif dan peluang investasi untuk menangkap pemulihan.

“Stabilitas rupiah juga perlu diperhatikan karena sering menjadi indikator awal kembalinya modal asing.

>>> Ramadhipa Ungkap Latihan Fisik Jadi Kunci Juara Moto3 Junior Estoril

Pada akhirnya, strategi investasi harus disesuaikan dengan jangka waktu dan profil risiko masing-masing investor,” pungkas tim riset Henan Putihrai.