Empat fase siklus pasar terlihat pada tujuh koreksi besar IHSG sebelumnya, tetapi bukan jaminan bahwa Siklus 8 akan mengikuti pola yang sama.

“Peluang pemulihan tetap bergantung pada berbagai katalis, termasuk pengumuman MSCI pada 18 Juni,” lanjut Henan Putihrai.

Berdasarkan data per 15 Juni 2026, Siklus 8 tampaknya telah menyelesaikan fase Descend.

IHSG turun dari puncak 9.134,70 pada 20 Januari 2026 ke level terendah 5.324,14 pada 8 Juni 2026, atau terkoreksi 41,7% dalam 4,6 bulan.

Setelah mencapai titik terendah, IHSG langsung memantul 10,9% dalam dua hari perdagangan. Fase Trough berlangsung sangat singkat, menyamai rekor tercepat pada krisis 2008 dan pandemi 2020.

>>> Argentina Tekuk Aljazair 3-0, Messi Cetak Hat-trick dan Samai Rekor Klose

Tim riset Henan mengatakan, siklus ini juga berbeda dari sebelumnya karena Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah koreksi pasar.

Berakhirnya fase penurunan kali ini lebih dipicu oleh meredanya tekanan jual setelah aksi jual investor asing mencapai rekor tertinggi, bukan oleh penurunan suku bunga.

Dengan durasi 4,6 bulan, fase Descend Siklus 8 sedikit lebih cepat dibanding rata-rata historis lima bulan.

Selama fase penurunan Siklus 8, investor perlu fokus pada signal dan mengabaikan sound serta noise.

Prediksi IHSG jatuh ke level ekstrem, narasi krisis permanen, atau perbandingan dengan krisis 1998 termasuk sound yang tidak relevan.

Gejolak harian akibat isu tarif, geopolitik, atau analisis teknikal jangka pendek merupakan noise.

Adapun signal yang mendahului titik terendah pasar adalah meredanya aksi jual investor asing, stabilisasi rupiah, dan perkembangan positif terkait status Indonesia di MSCI.