Pemerintah memastikan penerapan biodiesel B50, campuran solar dengan 50% minyak sawit, akan dimulai pada 1 Juli 2026.

Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.

>>> Argentina Tekuk Aljazair 3-0, Messi Cetak Hat-trick dan Samai Rekor Klose

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa program B50 diproyeksikan menghemat devisa negara secara signifikan.

Pada 2025, implementasi B40 berhasil menghemat devisa sebesar Rp 133 triliun. Dengan B50, penghematan diperkirakan mencapai Rp 157,28 triliun pada 2026.

Selain penghematan devisa, program ini diharapkan meningkatkan nilai tambah bagi petani sawit di berbagai daerah.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Pada 2025, program B40 mendongkrak nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp 20,9 triliun.

Tahun ini, perputaran nilai tambah dari sektor hilir minyak sawit diperkirakan mencapai Rp 24,68 triliun.

>>> Ramadhipa Ungkap Latihan Fisik Jadi Kunci Juara Moto3 Junior Estoril

Perluasan mandatory biodiesel juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja, yang diproyeksikan mencapai 2,2 juta orang.

Dari sisi lingkungan, penurunan emisi karbon setelah implementasi B50 ditargetkan mencapai 46,72 juta ton.

Anggia menegaskan bahwa pengurangan impor solar secara bertahap merupakan strategi besar untuk melepaskan diri dari kerentanan pasar energi global.

"Ketergantungan impor membuat kita rentan. Presiden menginginkan kemandirian energi.

>>> Apple Sempurnakan Engsel iPhone Lipat yang Dijadwalkan Rilis September 2026

B50 adalah upaya untuk menghentikan impor solar," ujar Anggia.