PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dinilai masih memiliki prospek yang menjanjikan hingga akhir 2026.

Hal ini seiring dengan kontribusi penuh dari bisnis energi terintegrasi di Singapura dan peningkatan kapasitas kilang.

>>> Aksi Unjuk Rasa 17 Juni 2026 Hambat Arus Lalu Lintas Jakarta

Pada kuartal I-2026, BRPT mencatatkan lonjakan kinerja berkat kontribusi kuat dari operasi kilang minyak di Singapura.

Anak usaha BRPT, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mengoperasikan Kilang Minyak Aster yang diakuisisi pada April 2025.

Selain itu, BRPT juga memiliki jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang diakuisisi dari ExxonMobil pada Januari 2026.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, kontribusi Kilang Aster yang telah terintegrasi penuh menjadi penopang utama kinerja BRPT.

Menurut Wafi, tambahan bisnis ritel bahan bakar melalui Esso membuat sumber pendapatan perseroan semakin beragam. "Prospek hingga akhir 2026 masih konstruktif.

Kenaikan laba pada 2025 berlanjut hingga kuartal I-2026 dengan kontribusi kilang Aster yang sudah terintegrasi penuh," ujarnya.

Ia menjelaskan, akuisisi Esso memberikan tambahan pendapatan berulang dari bisnis ritel bahan bakar yang memiliki margin lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia.

Dengan demikian, BRPT kini tidak lagi hanya bergantung pada bisnis petrokimia.

"BRPT sekarang sudah transformasi dari pure petrochemical play ke integrated energy dan chemicals company, dan diversifikasi ini kurangi volatilitas earnings secara struktural," ungkap Wafi.

Katalis dan Risiko yang Perlu Dicermati

Wafi menyebut sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja BRPT sepanjang tahun ini. Pertama, utilisasi Kilang Aster yang diperkirakan terus meningkat.

Kedua, kontribusi bisnis ritel Esso yang relatif stabil.