>>> BRI Prioritas Tawarkan Solusi Manajemen Kekayaan dan Welcome Reward Rp15 Juta

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memberikan keuntungan karena sebagian besar pendapatan BRPT berbasis dolar AS.

Katalis berikutnya berasal dari proyek Chandra Asri Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Dari sisi pasar modal, posisi free float BRPT yang mencapai 26,7% membuat saham ini relatif aman dari risiko dikeluarkan dari indeks global seperti MSCI maupun FTSE.

Meski demikian, Wafi mengingatkan sejumlah sentimen negatif yang perlu dicermati investor. Tekanan pada spread petrokimia global akibat kelebihan pasokan dari China masih membayangi industri.

Normalisasi harga minyak juga berpotensi menekan margin bisnis pengilangan.

Risiko lainnya berasal dari tingkat suku bunga yang masih tinggi.

Suku bunga acuan Bank Indonesia di level 5,50% dapat meningkatkan biaya pendanaan mengingat leverage BRPT masih tergolong tinggi.

Dari sisi fundamental, BRPT menunjukkan perbaikan kinerja signifikan.

Pendapatan BRPT melonjak 232,18% year on year (yoy) menjadi US$ 2,57 miliar pada akhir kuartal I-2026.

Pada kuartal I-2025, pendapatan mencapai US$ 773,75 juta.

BRPT juga mencetak laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 90,48 juta pada kuartal I-2026, meningkat 459,90% yoy dibandingkan laba bersih periode sebelumnya sebesar US$ 16,16 juta.

>>> BRI Salurkan KUR Rp84,36 Triliun hingga Mei 2026, Fokus ke Sektor Produktif

Wafi menilai pembalikan arah saham BRPT belakangan ini telah didukung oleh fundamental perusahaan. Ia memberikan rekomendasi Buy untuk saham BRPT dengan target harga Rp 2.200 per saham.