Kendati menunjukkan tren positif, para pelaku usaha masih dihadapkan pada beragam tantangan eksternal.

Dinamika ekonomi global yang tidak menentu, naik-turunnya harga bahan baku, serta perubahan selera konsumen menjadi dinamika yang harus diantisipasi.

Guna menghadapi tantangan tersebut, pemerintah mengintensifkan sinergi antara pelaku usaha, asosiasi sektoral, dan pemangku kepentingan terkait. Langkah ini diharapkan mampu memperkokoh daya tahan industri nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menekankan pentingnya adopsi teknologi modern dan otomatisasi dalam memperkuat posisi tawar produk lokal.

"Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk yang lebih presisi, serta mampu merespons kebutuhan konsumen secara lebih cepat dan tepat," ujarnya.

Kemenperin juga telah meluncurkan program penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).

Evaluasi ini menyasar sejumlah korporasi di sektor aneka, termasuk industri logam mulia dan pembuatan perhiasan.

Hasil dari penilaian indeks tersebut menunjukkan kesiapan yang cukup matang dari para pelaku industri dalam mengimplementasikan teknologi digital di pabrik mereka.

Beberapa aspek yang dinilai meliputi pemanfaatan kecerdasan buatan, digitalisasi tata kelola manajemen, proteksi siber, hingga pembuatan produk kustomisasi pintar.

Penerapan teknologi pintar ini juga diintegrasikan langsung pada alur produksi.

"Hasil tersebut menunjukkan bahwa industri logam mulia dan perhiasan mampu mengintegrasikan teknologi modern dengan kreativitas dan keterampilan sumber daya manusia untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bernilai tambah tinggi.

>>> PT Merdeka Battery Materials Tbk Usulkan Perombakan Jajaran Direksi

Kami berharap semakin banyak pelaku industri yang melakukan transformasi serupa guna meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing produknya," jelas Reni.