Pengelolaan ekspor komoditas strategis nasional didorong agar semakin terintegrasi. Langkah ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi negara.

Integrasi dinilai mendesak mengingat besarnya kontribusi sektor komoditas terhadap total ekspor nasional. Batubara tercatat sebagai komoditas ekspor terbesar Indonesia pada 2024 dengan kontribusi 8,65 persen.

>>> Mengenal Tiga Hari Besar Internasional Setiap Tanggal 22 Maret

Sektor lain yang menyusul adalah CPO sebesar 8,63 persen serta ferro alloy sebesar 5,82 persen.

Secara akumulatif, nilai ekspor ketiga komoditas andalan tersebut menembus US$ 72,05 miliar.

Jumlah itu setara dengan Rp 1.152 triliun apabila dihitung menggunakan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Pengapalan batubara menyumbang nilai ekspor US$ 30,49 miliar.

Komoditas produk sawit mencatatkan nilai US$ 27,76 miliar dan ferro alloy menghasilkan sekitar US$ 13,8 miliar.

DSI Dinilai Solusi Tepat

Pengamat pasar modal Fendi Susiyanto menilai batubara, sawit, dan nikel merupakan aset strategis Indonesia.

Ketiga sektor tersebut seharusnya mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi perekonomian domestik.

"Batubara, sawit, dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi.

Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian," ujarnya.

Langkah pemerintah mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dianggap sebagai solusi yang relevan. Kehadiran lembaga ini diproyeksikan mampu memperbaiki tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam.

Fendi menilai proses lalu lintas pengiriman komoditas ke luar negeri selama ini masih menghadapi kendala akuntabilitas dan transparansi.

>>> Harga Emas Antam 16 Juni 2026 Stagnan, Tak Bergerak dari Level Sebelumnya

Salah satu pemicunya adalah keberadaan perusahaan afiliasi milik sebagian eksportir di luar negeri.