Pemerintah dan Bank Indonesia memahami bahwa gejolak global tidak dapat dihadapi dengan retorika semata.

Stabilitas hanya dapat dijaga melalui sinergi kebijakan yang kredibel, konsisten, dan responsif.

Tradisi Kirab Tapa Bisu pada malam 1 Sura mengajarkan pentingnya pengendalian diri dan kejernihan berpikir.

Nilai tersebut relevan dalam proses perumusan kebijakan ekonomi yang menuntut kehati-hatian dan disiplin.

Bank Indonesia pada pekan lalu menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen.

Pada saat yang sama, pemerintah menjalankan kebijakan fiskal yang lebih terukur guna menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.

Kombinasi kedua kebijakan tersebut menjadi instrumen penting untuk mencegah tekanan inflasi berlebihan sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Mubeng Beteng, Memperkuat Ketahanan Ekonomi

Komitmen bersama untuk membentengi kedaulatan ekonomi tercermin dari filosofi ritual mubeng beteng, yaitu mengitari tembok luar benteng keraton untuk memastikan keamanan dari ancaman luar.

>>> Commodore Luncurkan Ponsel Lipat Retro Callback 8020, Blokir Media Sosial

Bank Indonesia memperkuat pengelolaan pasar valuta asing melalui penyesuaian batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung hingga 50 ribu dolar AS per pelaku pasar per bulan.

Langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Perjanjian dengan China yang dilakukan pekan lalu juga menambah fleksibilitas likuiditas di dalam negeri serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Strategi ini diperkuat dengan kebijakan pemerintah yang memperketat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan konsistensi program hilirisasi komoditas strategis.

Langkah terintegrasi ini dimaksudkan untuk memagari cadangan devisa domestik sekaligus mengurangi ketergantungan industri nasional terhadap gangguan rantai pasok global.