Melalui kesepakatan ini, pihak AS bersedia mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.

>>> Polisi Pastikan Empat Korban di Temanggung Tewas Keracunan Karbon Monoksida

Sebagai timbal balik, Iran berkomitmen membuka kembali lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz yang sempat terhenti akibat serangan AS dan Israel.

Kendati demikian, para pelaku industri memperingatkan bahwa pemulihan kapasitas produksi minyak Iran membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga hitungan tahun.

Faktor ketidakpastian juga masih membayangi karena pihak Israel memilih untuk mengambil jarak dari kesepakatan tersebut.

Kondisi keamanan kembali diuji setelah serangan pesawat nirawak Israel dilaporkan menghantam tiga kendaraan di Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya empat orang.

Insiden itu langsung memicu keraguan publik mengenai keberlanjutan komitmen gencatan senjata yang baru saja disepakati.

Data China dan AS

Di belahan dunia lain, data menunjukkan aktivitas pengolahan minyak mentah di China mengalami penurunan 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini menjadi yang terendah dalam kurun waktu hampir empat tahun terakhir bagi negara importir minyak terbesar di dunia.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sejumlah kilang di China mulai memanfaatkan cadangan persediaan minyak yang mereka timbun selama konflik berlangsung.

Sementara itu, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penyusutan persediaan minyak mentah AS sebesar 8,3 juta barel.

Angka penurunan cadangan minyak mentah tersebut tercatat jauh lebih besar dibandingkan estimasi awal para analis yang memperkirakan penyusutan sebesar 4,6 juta barel.

>>> Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 17.728 per Dolar AS pada 17 Juni 2026

Saat ini pelaku pasar global menantikan rilis data resmi pasokan minyak dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan keluar pada pekan ini.