Krisis Solar di Sumatera: Antrean Panjang Kembali Terjadi, Sistem Logistik Dipertanyakan
Pulau Sumatera kembali menghadapi antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU dalam beberapa pekan terakhir.
Truk pengangkut hasil perkebunan, bus antarkota, kendaraan logistik, hingga masyarakat pengguna diesel harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan solar.
>>> Thomas Tuchel Panggil Trevoh Chalobah ke Skuad Piala Dunia Inggris
Di beberapa daerah, sopir mulai mengantre sejak dini hari karena khawatir stok habis sebelum giliran mereka tiba.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan energi, melainkan telah berubah menjadi masalah ekonomi, logistik, dan daya saing kawasan.
Ketika bahan bakar tidak tersedia, distribusi barang terganggu, biaya angkutan meningkat, harga kebutuhan pokok berpotensi naik, dan produktivitas ekonomi menurun.
Yang memprihatinkan, persoalan ini terjadi di tengah pernyataan bahwa pasokan energi nasional dalam kondisi aman.
Janji Pemerintah vs Realitas di Lapangan
Pemerintah memiliki komitmen kuat menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga BBM. Subsidi energi yang dialokasikan melalui APBN mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Secara teori, kebijakan tersebut untuk memastikan masyarakat dan dunia usaha memperoleh energi yang cukup. Namun di lapangan, masyarakat melihat kenyataan berbeda.
Di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Utara, antrean solar terus terjadi. Keluhan datang dari sopir truk, operator bus, petani, nelayan, hingga pelaku usaha distribusi.
Mereka tidak mempersoalkan harga terlebih dahulu, melainkan membutuhkan kepastian bahwa BBM tersedia ketika dibutuhkan. Pertamina dan sejumlah pihak menyatakan bahwa kelangkaan bukan semata-mata akibat kekurangan kuota.
Sebagian pihak menduga adanya penyalahgunaan solar subsidi untuk aktivitas ekonomi yang tidak semestinya, termasuk pertambangan ilegal. Apapun penyebabnya, masyarakat menunggu siapa yang mampu menyelesaikan masalah.
Dampak pada Sistem Logistik Sumatera
Kelangkaan solar memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu lemahnya sistem logistik Sumatera. Pulau Sumatera merupakan kawasan strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka.
Update Terbaru
Kylian Mbappe Cetak Dua Gol dan Pecahkan Rekor Timnas Prancis
Rabu / 17-06-2026, 06:49 WIB
'Teach You a Lesson' Kembali Puncaki Netflix Global
Rabu / 17-06-2026, 06:49 WIB
5 Shio Diprediksi Raih Kesuksesan Besar pada 17 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 06:49 WIB
Microsoft Resmi Luncurkan Surface Laptop 8 15 Inci dengan Layar Lebih Tajam
Rabu / 17-06-2026, 06:48 WIB
Jasa Marga Rekonstruksi Tol JORR, Pengendara Diimbau Antisipasi Hambatan
Rabu / 17-06-2026, 06:48 WIB
Superindo Gelar Promo Weekday 18 Mei 2026, Nanas Honi hingga Deterjen Diskon
Rabu / 17-06-2026, 06:45 WIB
Misteri Lokasi Tembok Yajuj Majuj Menurut Al-Qur'an dan Ulama
Rabu / 17-06-2026, 06:44 WIB
Menkeu Purbaya: Potensi Pelonggaran APBN Jika Ketegangan AS-Iran Mereda
Rabu / 17-06-2026, 06:44 WIB
IHSG Menguat 4,12% ke Level 6.254,97 pada Senin
Rabu / 17-06-2026, 06:40 WIB
Bruno Fernandes Bangga Kembali Berjuang Bersama Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 06:40 WIB
Vinicius Junior Cetak Gol Penyelamat Brasil Kontra Maroko
Rabu / 17-06-2026, 06:36 WIB
Pergerakan Bulan di Leo Dorong Kreativitas Seluruh Zodiak pada 17 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 06:35 WIB
Harga Emas Dunia Berpeluang Kembali Cetak Rekor Tertinggi
Rabu / 17-06-2026, 06:35 WIB
KAI Commuter Rilis Jadwal KRL Solo-Jogja Terbaru 17 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 06:32 WIB






