Sejumlah suporter sepak bola gagal menyaksikan pertandingan tim nasional mereka secara langsung akibat melambungnya harga tiket Piala Dunia 2026.

Untuk tetap merasakan atmosfer turnamen, sebagian dari mereka terpaksa mengalihkan pilihan ke pertandingan negara lain yang tarifnya lebih terjangkau.

>>> Pemprov DKI Jakarta Siapkan Program Padat Karya Sepanjang 2026

Lonjakan harga ini dipicu oleh kebijakan baru FIFA yang menerapkan sistem dynamic pricing untuk pertama kalinya.

Kebijakan tersebut membuat nilai tiket berfluktuasi secara otomatis mengikuti tingginya tingkat permintaan pasar.

Kisah Suporter yang Beralih

Juan Velosa, suporter asal Kolombia, terpaksa membatalkan rencana awalnya karena tingginya biaya tiket dan akomodasi perjalanan.

"Saya sadar sejak awal tidak akan bisa menghadiri pertandingan Kolombia.

Begitu harga tiket dan lokasi pertandingan diumumkan, saya tahu biayanya akan berada di luar jangkauan saya," kata Velosa.

Sebagai alternatif, Velosa akhirnya membeli tiket laga Pantai Gading melawan Curacao di Philadelphia seharga USD 270 atau sekitar Rp 4,7 juta.

"Saya hanya ingin datang ke pertandingan yang paling murah. Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk bisa mengatakan bahwa saya pernah menonton Piala Dunia secara langsung," ujarnya.

Kondisi serupa dialami oleh Dale Mulhall, suporter Inggris yang tinggal hanya berjarak 40 kilometer dari Stadion Gillette, Massachusetts.

Kendati laga Inggris melawan Ghana digelar dekat dengan tempat tinggalnya, dia tetap kesulitan memperoleh tiket yang ramah di kantong.

Setelah tiket tim favoritnya habis dan harga yang tersisa melonjak tinggi, Mulhall memutuskan membeli tiket laga Uruguay kontra Arab Saudi seharga USD 220 atau setara Rp 3,8 juta.

"Saya bukan pendukung kedua negara itu.

Namun saya penggemar berat Leeds United dan Marcelo Bielsa kini melatih Uruguay, jadi saya ingin melihat timnya bermain," kata Mulhall.