>>> Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$439,8 Miliar pada April 2026

Bagi Mulhall, masalah utama dalam turnamen kali ini adalah nominal tarif yang dinilai sudah tidak masuk akal bagi para penggemar sepak bola kelas reguler.

"Saya datang ke Piala Dunia 2006 di Jerman dan hanya membayar 55 euro (Rp 1,1 juta) untuk tiket kategori dua saat menonton Italia melawan Ghana.

Saya paham ada inflasi, tetapi menurut saya harga tiket seharusnya berada di kisaran USD 65 (Rp 1,1 juta) hingga USD 300 (5,3 juta)," kata Mulhall.

Suporter Inggris lainnya, Becky Arntsen, bahkan memilih untuk sama sekali tidak mengikuti perjalanan Timnas Inggris ke Amerika Serikat.

Langkah ini diambil lantaran estimasi biaya akomodasi yang dianggap terlalu menguras dompet.

"Kami tidak terlalu mempertimbangkannya karena biaya perjalanan ke Amerika, termasuk hotel, transportasi, dan makanan, jauh lebih mahal dibandingkan pergi ke Meksiko," kata dia.

Arntsen kemudian mengalihkan anggaran dengan membeli tiket laga Tunisia melawan Jepang di Monterrey, serta dua pertandingan Kolombia di Guadalajara dan Mexico City dengan total biaya sekitar USD 500 atau Rp 8,8 juta.

"Kami tentu ingin menonton Inggris, tetapi itu bukan segalanya.

Kami mencintai sepakbola dan tetap akan menyaksikan pertandingan Inggris dari fan zone atau bar lokal di Meksiko," ujarnya.

Kritik terhadap Kebijakan FIFA

Menanggapi fenomena ini, Asisten Profesor University of Colorado Boulder, Ovunc Yilmaz, menilai bahwa tingginya tarif tiket di tiga negara tuan rumah merupakan konsekuensi logis dari masifnya antusiasme publik.

"Saya kira harga tinggi memang sangat mungkin terjadi mengingat besarnya permintaan di tiga negara tuan rumah," kata Yilmaz.

Di sisi lain, kebijakan finansial FIFA ini memicu kritik keras dari kelompok Football Supporters Europe (FSE) sebelum turnamen dimulai.

>>> Jawa Tengah Pimpin Capaian Sertifikasi Tanah Wakaf Nasional

Berdasarkan catatan FSE, harga tiket pada pergelaran kali ini melesat hingga lima kali lipat jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, sehingga berisiko menyingkirkan suporter biasa dari dalam stadion.