Pemerintahan Presiden Donald Trump hampir menyelesaikan pelepasan 172 juta barel dari cadangan minyak darurat Amerika Serikat.

Langkah ini diambil untuk menekan lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Iran.

>>> BSI Salurkan Pembiayaan Otomotif Rp 6,62 Triliun hingga April 2026

Data Departemen Energi AS yang dirilis Selasa (16/6/2026) menunjukkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) kini tersisa sekitar 340 juta barel.

Jika seluruh pelepasan selesai, stok diperkirakan hanya 243 juta barel, atau sepertiga dari kapasitas maksimum.

Kondisi ini memicu kekhawatiran pengamat energi mengenai kemampuan negara merespons gangguan pasokan global.

Kepala Analis Perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, mengatakan ruang untuk pelepasan tambahan di masa depan sangat sempit.

>>> Chelsea Resmi Lepas Marc Cucurella ke Real Madrid

Juru bicara Departemen Energi AS menyatakan pengelolaan cadangan tetap mengutamakan stabilitas pasar dan keamanan energi.

Pemerintah menerapkan sistem pertukaran dengan meminjamkan minyak ke swasta yang dikembalikan beserta bunga, menghemat lebih dari US$ 3 miliar dengan tingkat pengembalian 26%.

Penurunan cadangan ini menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November.

>>> Antonio Ruediger Sambut Jose Mourinho sebagai Pelatih Baru Real Madrid

Harga bensin sempat melonjak ke rata-rata US$ 4,04 per galon, namun mereda setelah kesepakatan damai sementara AS-Iran menurunkan harga minyak mentah global di bawah US$ 82 per barel.