Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 untuk program kompor listrik.

Usulan ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang masih mendominasi kebutuhan dalam negeri.

>>> Harga iPhone 16 Pro Max April 2026 Turun Drastis hingga Rp 7 Juta

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa transformasi energi rumah tangga menjadi fokus pemerintah jangka panjang. Opsi penggunaan kompor listrik kembali masuk dalam agenda kebijakan energi nasional.

"Energi yang kami dorong ke depan tidak hanya tentang LPG, tetapi kompor listrik, CNG, dan macam-macam.

Yang kami buat itu (kompor listrik) sebesar Rp815,56 miliar," ujar Bahlil di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Untuk mendukung pelaksanaan program, Kementerian ESDM meminta Komisi XII DPR RI membantu memetakan wilayah-wilayah yang paling membutuhkan. Pendataan ini dinilai penting agar implementasi berjalan tepat sasaran.

Anggaran Konversi Motor Listrik Juga Diajukan

Selain kompor listrik, pemerintah mengusulkan tambahan anggaran untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik.

Dalam RAPBN 2027, Kementerian ESDM mengajukan dana Rp635,24 miliar untuk program konversi motor listrik yang dikelola Ditjen EBTKE.

>>> AQUA Resmi Jadi Title Partner DBL Dance Competition Musim 2026/2027

Kedua program tersebut merupakan usulan baru dalam rancangan anggaran 2027. Namun, besaran alokasi masih dapat berubah menyesuaikan kondisi fiskal dan keputusan pemerintah dalam pembahasan RAPBN mendatang.

Wacana peralihan dari kompor LPG ke kompor listrik sebenarnya bukan isu baru.

Pada September 2022, PT PLN (Persero) sempat membatalkan program konversi kompor LPG 3 kilogram ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat pascapandemi COVID-19.

Belakangan, isu kompor listrik kembali menguat seiring gejolak harga energi global.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai transisi ke kompor listrik dapat mengurangi beban subsidi LPG yang sebagian besar bergantung pada impor.

"Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75-80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah," ucap Eddy. Ia mendukung langkah pemerintah mempercepat elektrifikasi di berbagai sektor.

>>> Steam Diskon Game PC Hingga 90 Persen, Termasuk Resident Evil

Dengan tingginya ketergantungan terhadap LPG impor, pemerintah kembali menempatkan kompor listrik sebagai opsi strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mengurangi dampak fluktuasi harga energi dunia.