Kenali Ciri Skincare Mengandung Merkuri untuk Hindari Kerusakan Kulit
Kekhawatiran terhadap kandungan merkuri dalam produk perawatan kulit semakin meningkat. Bahan kimia berbahaya ini kerap ditemukan pada produk pemutih ilegal yang berisiko merusak kesehatan.
FDA bersama otoritas kesehatan lain menemukan banyak produk pencerah kulit mengandung merkuri dan hidrokuinon dalam kadar tidak aman.
>>> Medcom Rilis Tren Kecantikan dan Tradisi Weton Tulang Wangi
FDA melarang keras penggunaan merkuri untuk kosmetik, kecuali dalam kondisi sangat terbatas dengan persyaratan ketat.
Produk pemutih di pasaran umumnya tidak memenuhi standar tersebut. Banyak produk beredar tanpa izin resmi dan tidak terdaftar di BPOM, sehingga meningkatkan risiko bagi konsumen.
Ciri-Ciri Skincare Mengandung Merkuri
Produk bermerkuri sering dipasarkan sebagai krim pemutih, anti-aging, penghilang flek hitam, atau bekas jerawat. Selain krim, merkuri juga ditawarkan melalui suntik cerah instan.
Salah satu tanda paling umum adalah tidak adanya informasi kandungan lengkap pada kemasan. Banyak produk sengaja menyembunyikan merkuri atau tidak mencantumkan komposisi sama sekali.
Kandungan merkuri sering disamarkan dengan istilah lain seperti mercurous chloride, calomel, mercuric, mercurio, atau mercury. Produk ilegal biasanya minim informasi atau menggunakan bahasa asing tanpa terjemahan.
>>> Promo Es Krim Indomaret 26 April 2026: Diskon Wall's dan Aice untuk Member
Klaim kulit putih atau cerah dalam hitungan hari juga patut dicurigai. Merkuri memang memberikan hasil instan, tetapi diikuti risiko kerusakan kulit jangka panjang.
Dampak Buruk dan Gejala Keracunan
Merkuri tidak hanya merugikan pengguna, tetapi juga membahayakan orang di sekitarnya karena dapat menguap ke udara. Uap tersebut berisiko terhirup oleh anggota keluarga, terutama bayi dan anak-anak.
Zat ini juga bisa menempel pada pakaian dan handuk yang bersentuhan dengan kulit. Anggota keluarga lain berisiko terpapar meski tidak memakai produk tersebut.
Kelompok paling rentan adalah ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak-anak. Pada bayi, paparan melalui ASI dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf.
>>> Sebelum Ada Hydration Break, Begini Cara Pemain Bola Jaga Hidrasi
Gejala keracunan merkuri meliputi rasa kesemutan dan mati rasa pada tangan, kaki, atau area sekitar mulut. Paparan terus-menerus juga dapat merusak fungsi organ tubuh.
Update Terbaru
Video Jang Wonyoung di Bandara Picu Perdebatan Soal Sopan Santun
Selasa / 16-06-2026, 12:52 WIB
Samsung Galaxy Book6 Edge Resmi Meluncur dengan Snapdragon X2 Elite
Selasa / 16-06-2026, 12:40 WIB
Khutbah Jumat Tanggal 19 Juni 2026: Hikmah Haji Menjadi Bekal Muslim Menjalani Kehidupan Sehari-hari
Selasa / 16-06-2026, 12:32 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 17 - 21 Juni 2026
Selasa / 16-06-2026, 12:31 WIB
Mengapa Genre JRPG Kembali Mendominasi Selera Gamer Indonesia di 2026
Selasa / 16-06-2026, 12:28 WIB
Mantan Calon Termuda di Korea Selatan Bersiap Debut sebagai Idol Jepang
Selasa / 16-06-2026, 12:24 WIB
3 HP Midrange Murah dengan Kualitas Video Terbaik untuk Konten dan Vlog Anti Blur
Selasa / 16-06-2026, 12:20 WIB
Samsung Browser Dikabarkan Hadirkan Dua Fitur Baru di One UI 9
Selasa / 16-06-2026, 12:16 WIB
Harga Emas Antam Hari Ini di Surabaya Bertahan, Emas 1 Gram Masih Rp 2,729 Juta
Selasa / 16-06-2026, 12:11 WIB
Putri So Yoo Jin dan Baek Jong Won yang Berusia 8 Tahun Viral karena Panggungnya yang Memukau
Selasa / 16-06-2026, 12:09 WIB
Bocoran Tecno Pova 8 Pro: RAM 12 GB dan Chipset Dimensity 7300
Selasa / 16-06-2026, 12:08 WIB
URBN Luncurkan Power Bank NANO ZAP 20000mAh dengan Kabel Type-C Bawaan
Selasa / 16-06-2026, 12:00 WIB






