Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengantisipasi potensi kelangkaan obat esensial di Indonesia. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga pasokan obat yang dibutuhkan masyarakat. Pemerintah memberikan dukungan strategis bagi pelaku usaha industri farmasi nasional.

>>> Saham BCA Melonjak 9,71 Persen Setelah BI Naikkan Suku Bunga

"Of course [bisa langka obat], oleh karena itu supaya mencegah itu kami dari pemerintah ingin membantu supaya kita tetap juga memberikan endorse kepada pelaku usaha industri.

Jangan dong dihentikan karena ini kan obat-obat esensial yang dibutuhkan rakyat," kata Taruna Ikrar.

Langkah Konkret BPOM

BPOM memfasilitasi industri farmasi yang ingin memindahkan sumber impor bahan baku ke negara alternatif. Misalnya, jika sebelumnya mengimpor dari Belanda, kini bisa beralih ke India.

>>> Disney Rahasiakan Keterlibatan Taylor Swift di Toy Story 5 dari Tom Hanks

Perubahan sumber bahan baku biasanya membutuhkan uji stabilitas dan standar yang besar. BPOM memberikan diskresi dengan memanfaatkan dokumen standar dan sertifikasi dari negara asal.

"Itu caranya kita bantu. Kita lakukan diskresi di Indonesia untuk membantu industri.

Karena itu kan butuh biaya biasa antara 15 sampai 30%. Kalau di sininya sudah terstandar, berarti harganya bisa tetap terkendali," ujar Taruna Ikrar.

>>> Wasit Somalia Omar Artan Ditolak Masuk AS untuk Piala Dunia 2026

Selain itu, BPOM mempercepat penerbitan izin dan mempermudah penyesuaian kemasan produk. Gejala kenaikan harga bahan baku impor sudah dirasakan sejak dua hingga tiga bulan terakhir.