Tanggal 8 Maret memiliki makna historis yang mendalam di berbagai belahan dunia. Momentum ini menjadi pengingat akan perjuangan hak kesetaraan, perubahan sosial, serta dinamika sejarah global dan domestik.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional.

>>> Disney+ Siap Tayangkan Drakor Bloody Flower, Geum Sae Rok Jadi Bintang Utama

Peringatan ini bertujuan mengapresiasi kontribusi perempuan di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta memperkuat kesadaran akan kesetaraan gender.

Gerakan ini berawal dari demonstrasi ribuan buruh perempuan di New York pada 1908. Mereka menuntut perbaikan kondisi kerja, pengurangan jam kerja, dan hak pilih.

Aktivis sosialis asal Jerman, Clara Zetkin, mengusulkan penetapan hari khusus perempuan dalam Konferensi Perempuan Sosialis Internasional di Copenhagen pada 1910.

Gagasan itu diterima dan mulai diperingati di berbagai negara sejak 1911.

PBB kemudian meresmikan peringatan ini secara internasional pada 1975. Sejak itu, 8 Maret menjadi simbol global pemberdayaan dan perjuangan hak perempuan.

>>> Fare Network Desak FIFA Pecat Petugas VAR karena Gestur Kontroversial

Perjanjian Kalijati: Akhir Kolonialisme Belanda

Di Indonesia, 8 Maret 1942 menjadi saksi Perjanjian Kalijati. Peristiwa ini menandai penyerahan kekuasaan kolonial Belanda kepada Jepang.

Perundingan berlangsung di pangkalan udara militer di Kalijati. Hein ter Poorten mewakili Belanda secara resmi menyerahkan kekuasaan kepada militer Jepang.

Dominasi Belanda yang berlangsung lebih dari tiga abad resmi berakhir. Indonesia kemudian memasuki masa pendudukan Jepang hingga 1945.

Hari PBB untuk Hak Perempuan dan Perdamaian

PBB juga menetapkan 8 Maret sebagai Hari PBB untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Internasional. Ketetapan ini menegaskan peran penting perempuan dalam membangun perdamaian global.

>>> Kenaikan BBM dan Suku Bunga Tekan Daya Beli Kelas Menengah

Melalui momentum ini, PBB mengajak negara anggota memperkuat perlindungan bagi perempuan. Partisipasi aktif perempuan dibutuhkan dalam pembangunan dan resolusi konflik.