"Anda membutuhkan jaminan keamanan yang kuat untuk membawa kapal masuk, memuat minyak, dan membawanya keluar," jelas Evans.

>>> Pemerintah Siapkan Program Kompor Listrik Rp815 Miliar pada 2027

Armada kapal memerlukan waktu perjalanan laut yang panjang untuk mencapai negara tujuan.

Minyak mentah juga harus melalui proses pengilangan sebelum produk akhir dapat didistribusikan ke konsumen.

Keterbatasan ruang penyimpanan membuat sejumlah produsen di Timur Tengah terpaksa menghentikan ekstraksi minyak atau melakukan shut-in.

Wakil presiden senior di Wood Mackenzie, Alan Gelder, berpendapat bahwa negara dengan jalur pipa alternatif seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berpeluang memulihkan produksi lebih cepat.

Sebaliknya, Irak diprediksi menghadapi tantangan lebih berat akibat skala penghentian produksi yang luas.

Pemulihan ladang minyak di Irak diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu tahun.

Pakar dari Center on Global Energy Policy di Universitas Columbia, Daniel Sternoff, menegaskan bahwa faktor kepercayaan adalah kunci utama pemulihan.

Negara produsen tidak akan terburu-buru menggenjot volume produksi sebelum memastikan gencatan senjata berjalan stabil dalam jangka panjang.

"Kami belum tahu seberapa cepat material yang terjebak bisa dievakuasi atau seberapa stabil akses selat ini ke depannya," tutur Sternoff.

Selat Hormuz merupakan titik sumbat energi paling krusial di dunia.

Jalur sempit antara Oman dan Iran ini menjadi pintu keluar utama distribusi minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ke pasar global di Asia, Eropa, serta Amerika Utara.

>>> Lee Sung Kyung dan Chae Jong Hyeop Bintangi Drakor Romantis In Your Radiant Season

Setiap hambatan di selat ini membawa konsekuensi instan terhadap stabilitas harga energi global akibat tingginya ketergantungan dunia terhadap pasokan hidrokarbon melalui jalur maritim tersebut.