Kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Iran dan membuka kembali Selat Hormuz pada awal pekan ini memicu sentimen positif di pasar energi global.

Para pakar energi mengingatkan bahwa penurunan harga minyak dan bensin tidak akan terjadi secara instan.

>>> Cara Daftar Mudik Gratis Bank Mandiri 2026 Lewat Aplikasi Livin

Perusahaan energi memerlukan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan operasional guna memenuhi permintaan dunia.

Hambatan utama meliputi lambatnya proses pengiriman dan pengilangan minyak mentah, serta keraguan terkait jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz.

Kondisi keamanan yang tidak menentu membuat kapal tanker bermuatan minyak mentah tertahan di Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan.

Jalur maritim ini menyalurkan sekitar seperlima total pasokan energi dunia sebelum konflik pecah.

Respons Pasar dan Tantangan Pemulihan

Kepala riset bahan bakar dan pengilangan global di S&P Global Energy, Daniel Evans, menyatakan bahwa pemulihan kepercayaan pasar membutuhkan proses yang tidak sebentar.

"Butuh waktu agar semua pihak merasa aman, jaminan asuransi tersedia, dan tim di lapangan siap mengoperasikan kembali aset yang terhenti," ujar Evans, Senin (15/6/2026).

Pasar finansial merespons positif kabar perdamaian tersebut.

Harga minyak mentah Brent turun US$ 3,45 menjadi US$ 83,89 per barel, sementara minyak mentah patokan AS terkoreksi US$ 4,03 ke US$ 80,85 per barel pada awal perdagangan Senin.

Namun, harga saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum perang yang berada di kisaran US$ 70 per barel.

Proses pemulihan pasokan energi dihadapkan pada persoalan logistik yang kompleks.

Seluruh kapal tanker yang tertahan harus segera keluar dari kawasan selat untuk memberi ruang bagi armada baru.