Pemerintah Indonesia bersikap hati-hati dalam mengawasi fluktuasi harga minyak mentah dunia setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin (15/6/2026).

Langkah pengawasan ketat ini dilakukan karena perkembangan pasar energi global sangat memengaruhi kebijakan subsidi, energi nasional, dan postur anggaran pendapatan dan belanja negara.

>>> Jerman Dukung Percepatan Penyelesaian Perjanjian IEU-CEPA dengan Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa penyesuaian kebijakan belum akan diputuskan secara tergesa-gesa mengingat kesepakatan damai kedua negara tersebut masih dalam proses finalisasi.

"Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani.

Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif," kata Airlangga Hartarto usai menghadiri rapat Dewan Pengawas Danantara di Jakarta.

Data pasar Oilprice pada pukul 21.09 WIB memperlihatkan penurunan tajam komoditas energi global tersebut.

Harga minyak mentah Brent merosot 4,87 persen ke level US$ 83,08 per barel, sedangkan varian West Texas Intermediate ditutup melemah 5,07 persen pada posisi US$ 80,58 per barel.

Koreksi harga terjadi menyusul pengumuman pembukaan Selat Hormuz untuk jalur pelayaran internasional dan pencabutan blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi tercapainya rekonsiliasi diplomatik tersebut secara tertulis melalui media sosial.

"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," tulis Donald Trump.

>>> Garena Belum Rilis Kode Redeem FF Terbaru 9 Mei 2026, Ini Alternatifnya

Melalui unggahan terpisah, ia menginstruksikan pemulihan operasional logistik laut global demi kelancaran pasokan energi dunia.

"Selamat kepada semuanya!

Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, bersamaan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat.

Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!"

ujar Trump.

Pihak Gedung Putih menilai traktat ini dapat memicu stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah setelah melalui proses negosiasi berbulan-bulan dengan mediasi dari Pakistan.

"Kesepakatan besar ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh kawasan," tegas Trump.

Kendati situasi pasar melandai, risiko geopolitik dinilai belum sepenuhnya sirna karena Washington tetap membuka opsi militer apabila kesepakatan nuklir lanjutan mengalami kebuntuan.

>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 17 – 21 Juni 2026

Penandatanganan formal dokumen perjanjian damai tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.