Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan signifikan pada awal pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.06 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda menguat 181,50 poin atau 1,02% ke level Rp 17.678 per dolar AS.

>>> Mengenal Sejarah Empat Hari Besar Setiap Tanggal 14 Februari

Penguatan ini melanjutkan tren positif sejak pembukaan perdagangan Senin pagi (15/6/2026), saat rupiah naik 82 poin atau 0,46% ke posisi Rp 17.778 per dolar AS.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan rupiah hari ini bergerak dalam kisaran Rp 17.700 per dolar AS.

Sentimen Global dan Domestik

Apresiasi rupiah terjadi saat dolar AS bergerak relatif mendatar pada sesi perdagangan Jumat lalu.

Pelaku pasar global saat itu menantikan kelanjutan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran.

Kondisi geopolitik membaik setelah kedua negara mengumumkan kesepakatan resmi untuk membuka kembali akses Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata, dimulainya negosiasi program nuklir Iran, serta pelonggaran sanksi.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah tetap terjadi meskipun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia mengalami penurunan.

>>> 6 Makanan Indonesia yang Mirip dengan Kuliner Belanda dan Jepang

Koreksi imbal hasil SBN terjadi pada perdagangan Jumat lalu, terutama untuk instrumen tenor jangka pendek.

Penurunan yield ini berjalan seiring dengan laporan kemajuan menuju kesepakatan damai di Timur Tengah.

Imbal hasil SBN acuan tenor 5 tahun turun ke level 7,26% (turun 23 bps), tenor 10 tahun ke 7,42% (turun 3 bps), dan tenor 15 tahun ke 7,43% (turun 11 bps).

Sementara itu, yield SBN tenor 20 tahun turun tipis ke level 7,41% (turun 1 bps).

Josua menambahkan, penurunan harga minyak turut membantu meredakan kekhawatiran terhadap potensi tekanan fiskal.

Aktivitas pasar obligasi pemerintah juga menunjukkan peningkatan, dengan rata-rata volume transaksi harian mencapai Rp 27,17 triliun pada pekan lalu, lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp 22,54 triliun.

>>> IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan, Target Resistance 6.290

Di sisi lain, kepemilikan investor asing pada SBN mengalami penurunan sebesar Rp 2,09 triliun, menjadi Rp 866 triliun per 11 Juni 2026, atau setara 12,53% dari total outstanding.