Pemerintah tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul temuan inefisiensi anggaran yang cukup besar.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa program tersebut dinilai boros dan mengakibatkan hilangnya anggaran negara hingga Rp1 triliun per bulan.

>>> Maruti Suzuki Luncurkan Wagon R Bioflex Berbahan Bakar Etanol di India

Pemborosan ini ditengarai bersumber dari pembengkakan jumlah titik Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) sebanyak 6.877 titik, melampaui target perencanaan awal sebanyak 21.000 titik.

Dugaan praktik jual beli titik SPPG di berbagai wilayah, termasuk di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjadi sorotan utama dalam investigasi ini.

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama kementerian dan lembaga terkait berkomitmen melakukan penataan ulang pelaksanaan program agar lebih efisien dan tepat sasaran.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa penataan ulang program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini ditargetkan selesai dalam waktu satu bulan ke depan.

Fokus utama pemerintah adalah menghitung kembali kebutuhan pendanaan agar sesuai dengan kebutuhan riil, yang berpotensi mengurangi total anggaran program tersebut.

Rupiah Menguat ke Rp17.776 per Dolar AS

Pergerakan nilai tukar rupiah mencatatkan tren penguatan seiring dengan diumumkannya berbagai kebijakan tata kelola ekonomi.

>>> Messi, Haaland, dan Mbappe Bersinar di Piala Dunia 2026

Berdasarkan data Bloomberg pada 16 Juni 2026, rupiah terpantau menguat ke level Rp17.776 per dolar Amerika Serikat.

Pencapaian ini membuat nilai tukar rupiah perlahan kembali mendekati level terkuatnya dalam satu bulan terakhir.

Sebagai perbandingan, pada 8 Juni 2026, rupiah sempat tertekan dan berada di titik terlemahnya terhadap dolar AS di level Rp18.188.