Namun, lonjakan harga BBM ini berpotensi menjadi beban tambahan bagi UMKM karena margin usaha mereka lebih terbatas.

Tekanan Berlapis bagi Dunia Usaha

Iklim dunia usaha saat ini masih dibayangi berbagai tekanan biaya yang berlapis, mulai dari pelemahan daya beli, fluktuasi nilai tukar, biaya energi dan logistik, hingga ketidakpastian ekonomi global.

>>> Ayyoub Bouaddi Tampil Memukau, Maroko Tahan Imbang Brasil di Piala Dunia 2026

Oleh sebab itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dikhawatirkan dapat memperlebar tekanan biaya yang telah dipikul para pelaku usaha dalam beberapa waktu belakangan.

Shinta memperkirakan dampak kebijakan ini terhadap harga barang dan jasa kemungkinan tidak sekasar saat pemerintah menaikkan BBM bersubsidi atau solar.

Namun, risiko efek lanjutan (second-round effect) tetap wajib diwaspadai apabila kenaikan biaya operasional mulai dialihkan ke tarif jasa, ongkos kirim, atau harga jual konsumen.

"Dalam situasi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, tambahan biaya seperti ini perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak makin menekan konsumsi rumah tangga," imbuh Shinta.

Risiko terhadap Daya Beli Masyarakat

Dari kacamata konsumsi, Shinta menilai lonjakan harga Pertamax berisiko menggerus pengeluaran masyarakat kelas menengah yang bergantung pada kendaraan pribadi.

Peningkatan biaya transportasi ini dikhawatirkan bakal memangkas ruang belanja rumah tangga untuk kebutuhan lainnya.

Situasi tersebut memerlukan antisipasi cepat agar tidak mengganggu permintaan domestik yang menjadi pilar pertumbuhan ekonomi.

Rekomendasi Pengendalian Inflasi

Guna menekan dampak tersebut, Shinta mendorong pemerintah memperkuat strategi pengendalian inflasi, terutama pada komponen transportasi, distribusi, serta pangan.

Langkah peningkatan efisiensi sektor logistik juga dipandang krusial agar kenaikan biaya energi tidak serta-merta diterjemahkan menjadi lonjakan harga barang secara masif.